Konon, menurut etimologinya (makhluk opo maning iki?), kata ‘reuni’ memiliki arti ‘bertemu kembali teman yang telah lama berpisah’. Kamus digital World Book 2005 memberi arti “the act or process of coming together again” atau “a social gathering of persons who have been separated or who have interests in common”.
Biasanya apa yang dilakukan oleh orang-orang pada saat reuni adalah mengenang kembali apa yang pernah mereka lakukan bersama di masa ‘lalu’—saat mereka dulu meluangkan waktu bersama, misal tatkala belajar di satu sekolah yang sama. Mereka mungkin memiliki kenangan yang bisa saja manis maupun pahit untuk dikenang bersama. Yang pasti mereka yang terlibat di dalam kesempatan reuni tersebut memiliki ikatan batin dengan masa lalu mereka.
So, apakah bertemu dengan ‘orang-orang yang belajar di sekolah yang sama pada tahun yang sama namun tidak pernah saling mengenal dengan lebih dekat’ juga disebut reuni?
Pada waktu aku duduk di bangku SMA (1983-1986), aku masuk jurusan Bahasa di semester dua di kelas 1. (FYI, aku adalah angkatan terakhir siswa-siswa SMA yang mulai masuk jurusan yang berbeda—IPA, IPS, BAHASA di kelas 1, semester 2. Tahun-tahun berikutnya, siswa-siswa SMA memulai penjurusan di kelas 2, bahkan pada waktu SMA disebut SMU, mereka memulai penjurusan di kelas 3.) Hal ini membuatku tidak banyak mengenal anak-anak kelas lain. Apalagi aku tidak memiliki sifat ‘sociable’ yang membuatku mengenal banyak siswa kelas lain.
Kebalikannya, mungkin banyak siswa yang mengenaliku karena di jurusanku, Bahasa, hanya ada empat siswa—dua laki-laki, dua perempuan. Itu sebabnya tatkala menghadiri reuni SMA tanggal 23 September kemarin, aku memperkenalkan diri sebagai, “Nana ... jurusan Bahasa.” Tatkala ada yang bertanya, “Mbak-nya ini siapa ya?”
Emosiku tidak terlalu larut dalam kumpul-kumpul reuni tersebut karena tak satu pun dari tiga mantan teman sekelas jurusan Bahasa yang datang. Itu sebabnya dalam kesempatan tersebut aku hanya bengong memandang orang-orang lain yang saling berusaha mengenali satu sama lain. (23 years has gone!!!) I really have lost my memory. LOL.
Untunglah ada acara makan enak yang gratis. LOL.
PT56 14.14 260909
Monday, September 28, 2009
Thursday, September 24, 2009
Jual hape?
Pernahlah kamu menjual handphone yang telah kamu miliki selama beberapa saat?
Aku belum pernah. Kalau pun ganti handphone, itu pasti karena hp yang lama dijatuhcintai orang lain sehingga pindah tangan, tanpa seizinku. LOL.
Kalau aku boleh mengemukakan saran, sebelum menjual hp yang tak lagi kau cintai, tolong lah hapus semua yang ada di dalam hp tersebut, sms, mms, sampai nomor telpon dan ubo rampenya yang tersimpan di phonebook. Kalau video pribadimu akan kamu tinggal di sana, as long as tidak merugikan orang lain yang mungkin terlibat di dalamnya, ya go ahead. Siapa tahu kamu bakal terkenal tak lama lagi, karena seseorang iseng meng-upload-nya ke youtube.
Masalahnya begini.
Pas lebaran kemarin out of the blue seseorang menelponku. Nomor telponnya tak tersimpan di phonebook-ku. Berhubung suaranya rada-rada mirip seorang teman lain, aku menerima telpon dengan ramah dan riang gembira (maklum lebaran, seusai perut kekenyangan makan opor ayam). Aku pikir temanku itu ganti nomor telpon. Apalagi cara dia menyapa sok familiar banget, “Gimana Na tadi shalat Ied-nya? Maaf lahir batin yah?”
Namun toh akhirnya dia membuka ‘kedok’nya, tatkala dia kutanya, “Eh, kamu beli nomor baru lagi ya?”
“Ceritanya begini loh Na. Tapi janji kamu ga marah sama aku ya?” jawabnya.
Aku pun heran. Lah, orang cuma nanya apakah dia beli nomor baru kok sampai aku harus janji ga marah? Berhubung suasana lebaran, ya ga susahlah janji ga marah bagiku. (Dan PMS masih jauh dari siklusku. Hahaha ...)
Dia pun cerita. Konon dia membeli hape bekas di sebuah counter. Setelah dia bawa pulang tuh hape bekas yang baru buatnya, dia amat-amati, di phonebook masih tersimpan nomor-nomor telpon, lengkap dengan nama pemilik nomor tersebut. Berhubung yang membeli ini cowo, menurut kultur heteroseksual yang masih berlaku erat saat ini, tak heran kalau dia pun tertarik dengan nama-nama cewe, sebangsa DIANA, NANA, LINA, LUNA. Dan, dengan keisengan di otaknya yang berbanding sama dengan kepedean di mentalnya, dia pun menelpon tuh nama-nama yang mengandung unsur NA.
Pertama nelpon, dia didamprat habis-habisan. Ini menurut pengakuannya.
Nelpon yang kedua, dapat respons lumayan.
Nelpon yang ketiga, dia sangat beruntung karena mendapatkan respons yang ramah, si pemilik tawa yang renyah, nyokapnya si mahasiswi baru fakultas Psikologi UNDIP.
Untunglah moodku bener-bener sedang bagus (Lebaran gitu loh!) Dapat teman baru siapa tahu beranalogi dengan rezeki baru. (bergabung dengan komunitas b2w Semarang adalah contoh yang benar-benar hoki bagiku: dapat teman-teman baru yang kocak, yang hobinya nraktir makan di sana sini, LOL, dapat sepeda baru, dapat hape baru, diajakin jeng-jeng ke Jogja, my second hometown, ga lupa foto-foto narsis abis. Dll.) Aku bahkan ga keberatan waktu dia tahu tempat kerjaku, karena di dataku yang ada di phonebook tersebut tertulis, “Ms. Nana – Lembaga Pendidikan LIA – 081575xxxxxx” I had no idea though whether the hp used to belong to an ex student of mine or a workmate of mine.
Nevertheless ...
Aku tetap bakal nyaranin agar kalian yang akan menjual hape yang tak lagi kalian cintai itu menghapus data-data yang ada di phonebook.
Semalam, tatkala aku tidur nyenyak, sekitar tengah malam (sorenya aku habis berenang plus sepedaan, jelas pengantar tidur nyenyak dah) tahu-tahu tuh orang yang merasa mendapatkan angin dariku menelpon. Kurang kerjaan banget kan? Sekali, kucuekin. Dua kali, masih kucuekin. Ketiga kali, akhirnya kuangkat, ah ternyata dia. (Untunglah aku ini termasuk komunitas JOJOBA, ga bakal ada yang marah kalau ada yang nelpon aku malam-malam gitu. Hahaha ...)
“Udah malem, euy! Tidur sono!” kataku, dengan nada super ngantuk. Barangkali kalimatku ga jelas terdengar di kupingnya. Langsung telpon kututup.
Eh, ga lama kemudian dia nelpon lagi. Mana suaranya terdengar mesum pula!
“Hello Cinta. Kok dimatiin sih?” tanyanya.
Waduh, aku disamain anjingnya seorang teman. Mba Omie menamai anjingnya CINTA. Wakakakaka ...
“Udah malem gini. Ya ampun. Aku udah tidur nih...” gumamku ga jelas, tentu masih dengan nada super ngantuk.
“Oh, udah tidur yah Cin? Ya udah deh. Met tidur ya?” jawabnya.
Untunglah dia bukan termasuk makhluk yang suka ngeyel.
Tuh kan???
Hapuslah data-data yang ada di hape sebelum kalian menjualnya.
PT56 12.42 230909
Aku belum pernah. Kalau pun ganti handphone, itu pasti karena hp yang lama dijatuhcintai orang lain sehingga pindah tangan, tanpa seizinku. LOL.
Kalau aku boleh mengemukakan saran, sebelum menjual hp yang tak lagi kau cintai, tolong lah hapus semua yang ada di dalam hp tersebut, sms, mms, sampai nomor telpon dan ubo rampenya yang tersimpan di phonebook. Kalau video pribadimu akan kamu tinggal di sana, as long as tidak merugikan orang lain yang mungkin terlibat di dalamnya, ya go ahead. Siapa tahu kamu bakal terkenal tak lama lagi, karena seseorang iseng meng-upload-nya ke youtube.
Masalahnya begini.
Pas lebaran kemarin out of the blue seseorang menelponku. Nomor telponnya tak tersimpan di phonebook-ku. Berhubung suaranya rada-rada mirip seorang teman lain, aku menerima telpon dengan ramah dan riang gembira (maklum lebaran, seusai perut kekenyangan makan opor ayam). Aku pikir temanku itu ganti nomor telpon. Apalagi cara dia menyapa sok familiar banget, “Gimana Na tadi shalat Ied-nya? Maaf lahir batin yah?”
Namun toh akhirnya dia membuka ‘kedok’nya, tatkala dia kutanya, “Eh, kamu beli nomor baru lagi ya?”
“Ceritanya begini loh Na. Tapi janji kamu ga marah sama aku ya?” jawabnya.
Aku pun heran. Lah, orang cuma nanya apakah dia beli nomor baru kok sampai aku harus janji ga marah? Berhubung suasana lebaran, ya ga susahlah janji ga marah bagiku. (Dan PMS masih jauh dari siklusku. Hahaha ...)
Dia pun cerita. Konon dia membeli hape bekas di sebuah counter. Setelah dia bawa pulang tuh hape bekas yang baru buatnya, dia amat-amati, di phonebook masih tersimpan nomor-nomor telpon, lengkap dengan nama pemilik nomor tersebut. Berhubung yang membeli ini cowo, menurut kultur heteroseksual yang masih berlaku erat saat ini, tak heran kalau dia pun tertarik dengan nama-nama cewe, sebangsa DIANA, NANA, LINA, LUNA. Dan, dengan keisengan di otaknya yang berbanding sama dengan kepedean di mentalnya, dia pun menelpon tuh nama-nama yang mengandung unsur NA.
Pertama nelpon, dia didamprat habis-habisan. Ini menurut pengakuannya.
Nelpon yang kedua, dapat respons lumayan.
Nelpon yang ketiga, dia sangat beruntung karena mendapatkan respons yang ramah, si pemilik tawa yang renyah, nyokapnya si mahasiswi baru fakultas Psikologi UNDIP.
Untunglah moodku bener-bener sedang bagus (Lebaran gitu loh!) Dapat teman baru siapa tahu beranalogi dengan rezeki baru. (bergabung dengan komunitas b2w Semarang adalah contoh yang benar-benar hoki bagiku: dapat teman-teman baru yang kocak, yang hobinya nraktir makan di sana sini, LOL, dapat sepeda baru, dapat hape baru, diajakin jeng-jeng ke Jogja, my second hometown, ga lupa foto-foto narsis abis. Dll.) Aku bahkan ga keberatan waktu dia tahu tempat kerjaku, karena di dataku yang ada di phonebook tersebut tertulis, “Ms. Nana – Lembaga Pendidikan LIA – 081575xxxxxx” I had no idea though whether the hp used to belong to an ex student of mine or a workmate of mine.
Nevertheless ...
Aku tetap bakal nyaranin agar kalian yang akan menjual hape yang tak lagi kalian cintai itu menghapus data-data yang ada di phonebook.
Semalam, tatkala aku tidur nyenyak, sekitar tengah malam (sorenya aku habis berenang plus sepedaan, jelas pengantar tidur nyenyak dah) tahu-tahu tuh orang yang merasa mendapatkan angin dariku menelpon. Kurang kerjaan banget kan? Sekali, kucuekin. Dua kali, masih kucuekin. Ketiga kali, akhirnya kuangkat, ah ternyata dia. (Untunglah aku ini termasuk komunitas JOJOBA, ga bakal ada yang marah kalau ada yang nelpon aku malam-malam gitu. Hahaha ...)
“Udah malem, euy! Tidur sono!” kataku, dengan nada super ngantuk. Barangkali kalimatku ga jelas terdengar di kupingnya. Langsung telpon kututup.
Eh, ga lama kemudian dia nelpon lagi. Mana suaranya terdengar mesum pula!
“Hello Cinta. Kok dimatiin sih?” tanyanya.
Waduh, aku disamain anjingnya seorang teman. Mba Omie menamai anjingnya CINTA. Wakakakaka ...
“Udah malem gini. Ya ampun. Aku udah tidur nih...” gumamku ga jelas, tentu masih dengan nada super ngantuk.
“Oh, udah tidur yah Cin? Ya udah deh. Met tidur ya?” jawabnya.
Untunglah dia bukan termasuk makhluk yang suka ngeyel.
Tuh kan???
Hapuslah data-data yang ada di hape sebelum kalian menjualnya.
PT56 12.42 230909
Maron ...
Tidak ada hubungan yang istimewa antara seorang Nana Podungge sang bike-to-worker dengan pantai Maron sebenarnya. Beda dengan Nana Podungge dengan kolam renang yang terletak di Paradise Club plus bangku di pojok tempat si Nana nongkrong ngeringin rambut setelah mandi usai berenang. This was indeed my first love. LOL.
Nevertheless, tentu ga bakal Nana lupa nyambangi pantai yang ga begitu indah ini di saat dia libur Lebaran yang kebetulan bertepatan dengan term-break dari tempat dia kerja. So, ga heran lah kalau di satu pagi hari Rabu Nana mengayuh sang ‘orange’ – sepeda kesayangan, bukti kasih sayang teman-teman b2w Semarang – menuju pantai Maron seorang diri. Dua puluh lima menit kemudian sampailah dia di bibir pantai. (FYI, yang dia nikmati dalam perjalanan bukanlah pemandangan sawah maupun tambak di kiri kanan jalan, melainkan jalanan yang menyerupai ombak yang mengalun bergelombang meski berdebu karena hujan tidak turun berhari-hari di Semarang
Setelah memilih tempat untuk beristirahat sejenak, aku pun mengeluarkan buku diary dari tas punggung b2w dan mulai menulis.
Tiba-tiba aku teringat obrolan ga penting dengan seseorang di telpon kemarin. He is a newbie in my life. Waktu aku bercerita bahwa aku adalah seorang b2wer, dia ga bisa bayangin bagaimana ceritanya seseorang naik sepeda berangkat ke kantor, di zaman seperti ini. (Betapa dia kuper yak? LOL.) Tatkala pertama kali aku mengatakan ‘sepedaan’, dia ternyata ‘hanya’ membayangkan aku naik sepeda keliling kampung Pusponjolo. LOL. Bukan bermaksud nyombong atau sebangsanya itu (kecuali berniat pamer), aku bilang aja rute aku CNR sepulang kerja: Tendean – Imam Bonjol – Tugumuda – Pandanaran – Simpanglima – Pahlawan – Sriwijaya – Peterongan – Pasar Kambing – Mrican – Lamper – Majapahit – Mataram – Bubakan – Agus Salim – Pemuda – Tugumuda – Sugiyopranoto – Sudirman – Kalibanteng – Pamularsih – Pusponjolo.
Aku membayangkan dia mendengarkan ceritaku sambil melongo. Ha ha ha ... (Bagi para cyclist sebangsa si kembar pak Leo dan pak Tatang mah ... rute ini kuecil sak kuku item.)
“Kamu tahu pantai Maron?” tanyaku.
“Tahu...” jawabnya.
“Pernah kesana?” tanyaku lagi.
“Belum sih ...” jawabnya.
“Well, Pusponjolo – Maron adalah rute favoritku, dengan catatan kalau ga turun hujan sehari sebelumnya.” Ceritaku, pamer.
Kubayangkan dia melongo lagi. LOL. “Hah ... jauh amat?” komentarnya.
“Ah, ga juga. Cuma setengah jam kok dari rumahku.” Jawabku merendah, meninggikan mutu.
“Sama siapa?” tanyanya.
“Biasanya sih sendirian. Sesampai sana ... nah ... nampaklah pemandangan muda mudi berpasangan. Aku sendirian.” Ceritaku, mendramatisir.
“Paittt...! Kasihan deh loe...” komentarnya.
“Ah, engga. Cuek aja lagi. Being a loner is fun too for me.” Jawabku.
“Trus kamu ngapain tuh di sana sendirian gitu? Ngiler dong?” tuduhnya tanpa alasan.
“Ya engga lah. Biasanya sih aku bawa buku bacaan, atau diary. Ga papa toh nulis diary di pantai gitu?” jawabku cuek.
“Yeeee ... CARI PERHATIAN BANGET!!!!!!!!!!” teriaknya di telpon.
Waduh, heranlah daku. Bukan karena dia berteriak di telpon, melainkan tuduhannya itu loh, CARI PERHATIAN!!! Lha wong aku anteng-anteng aja, duduk manis, di samping si ‘orange’, ndengerin MP4 player, sambil nulis-nulis. Kok aku dituduh cari perhatian? Kecuali kalo dengan pede aku berjoget-joget di tengah-tengah orang banyak. Lebih pede lagi tanpa busana. Wakakakaka ... (bakal langsung dijeblosin ke mental hospital kali ye?) itu namanya cari perhatian.
Ya ga?
Bener ga?
Tapi kamu tahu dia ngomong apa?
“Di tengah lautan manusia yang semuanya berpasangan di pantai, ada seorang perempuan duduk seorang diri dengan pede, menulis-nulis di buku diary sambil memandang ke laut lepas. Kamu kira itu ga menarik perhatian?!?” teriaknya lagi.
Dan aku pun bengong.
Oh well, mataku yang belor ini ‘mencegahku’ (atau ‘menyelamatkanku’?) untuk mengetahui apakah orang-orang itu menganggap seorang perempuan yang duduk seorang diri di pinggir pantai, di samping sepedanya yang berwarna ngejreng (jangan salahin aku dong. Itu pilihan teman-teman tersayang!) ndengerin MP4 player, sambil menulis diary sebagai suatu bentuk menarik perhatian.
Ingatan atas obrolan di telpon kemarin ini sempat membuatku terkikik geli seorang diri tatkala aku mulai menulis diary. Ah, emang gue pikirin? Suasana pantai tidak seramai yang kuperkirakan sebelum berangkat. Dan tiba-tiba aku jadi dapat ide untuk menulis hal ini buat blog.
“Blogging? Hobby orang gila. Nulis-nulis sendiri. Menerbitkannya sendiri di internet. Kemudian nyuruh orang membacanya, dan menulis komentar! Huh!” komentar orang yang sama tatkala aku bilang ke dia salah satu hobiku adalah blogging. Huahuahuahaha ...
Nampaknya teman baruku yang satu ini akan selalu berada di kutub yang berseberangan denganku. LOL.
PT56 11.57 230909
Nevertheless, tentu ga bakal Nana lupa nyambangi pantai yang ga begitu indah ini di saat dia libur Lebaran yang kebetulan bertepatan dengan term-break dari tempat dia kerja. So, ga heran lah kalau di satu pagi hari Rabu Nana mengayuh sang ‘orange’ – sepeda kesayangan, bukti kasih sayang teman-teman b2w Semarang – menuju pantai Maron seorang diri. Dua puluh lima menit kemudian sampailah dia di bibir pantai. (FYI, yang dia nikmati dalam perjalanan bukanlah pemandangan sawah maupun tambak di kiri kanan jalan, melainkan jalanan yang menyerupai ombak yang mengalun bergelombang meski berdebu karena hujan tidak turun berhari-hari di Semarang
Setelah memilih tempat untuk beristirahat sejenak, aku pun mengeluarkan buku diary dari tas punggung b2w dan mulai menulis.
Tiba-tiba aku teringat obrolan ga penting dengan seseorang di telpon kemarin. He is a newbie in my life. Waktu aku bercerita bahwa aku adalah seorang b2wer, dia ga bisa bayangin bagaimana ceritanya seseorang naik sepeda berangkat ke kantor, di zaman seperti ini. (Betapa dia kuper yak? LOL.) Tatkala pertama kali aku mengatakan ‘sepedaan’, dia ternyata ‘hanya’ membayangkan aku naik sepeda keliling kampung Pusponjolo. LOL. Bukan bermaksud nyombong atau sebangsanya itu (kecuali berniat pamer), aku bilang aja rute aku CNR sepulang kerja: Tendean – Imam Bonjol – Tugumuda – Pandanaran – Simpanglima – Pahlawan – Sriwijaya – Peterongan – Pasar Kambing – Mrican – Lamper – Majapahit – Mataram – Bubakan – Agus Salim – Pemuda – Tugumuda – Sugiyopranoto – Sudirman – Kalibanteng – Pamularsih – Pusponjolo.
Aku membayangkan dia mendengarkan ceritaku sambil melongo. Ha ha ha ... (Bagi para cyclist sebangsa si kembar pak Leo dan pak Tatang mah ... rute ini kuecil sak kuku item.)
“Kamu tahu pantai Maron?” tanyaku.
“Tahu...” jawabnya.
“Pernah kesana?” tanyaku lagi.
“Belum sih ...” jawabnya.
“Well, Pusponjolo – Maron adalah rute favoritku, dengan catatan kalau ga turun hujan sehari sebelumnya.” Ceritaku, pamer.
Kubayangkan dia melongo lagi. LOL. “Hah ... jauh amat?” komentarnya.
“Ah, ga juga. Cuma setengah jam kok dari rumahku.” Jawabku merendah, meninggikan mutu.
“Sama siapa?” tanyanya.
“Biasanya sih sendirian. Sesampai sana ... nah ... nampaklah pemandangan muda mudi berpasangan. Aku sendirian.” Ceritaku, mendramatisir.
“Paittt...! Kasihan deh loe...” komentarnya.
“Ah, engga. Cuek aja lagi. Being a loner is fun too for me.” Jawabku.
“Trus kamu ngapain tuh di sana sendirian gitu? Ngiler dong?” tuduhnya tanpa alasan.
“Ya engga lah. Biasanya sih aku bawa buku bacaan, atau diary. Ga papa toh nulis diary di pantai gitu?” jawabku cuek.
“Yeeee ... CARI PERHATIAN BANGET!!!!!!!!!!” teriaknya di telpon.
Waduh, heranlah daku. Bukan karena dia berteriak di telpon, melainkan tuduhannya itu loh, CARI PERHATIAN!!! Lha wong aku anteng-anteng aja, duduk manis, di samping si ‘orange’, ndengerin MP4 player, sambil nulis-nulis. Kok aku dituduh cari perhatian? Kecuali kalo dengan pede aku berjoget-joget di tengah-tengah orang banyak. Lebih pede lagi tanpa busana. Wakakakaka ... (bakal langsung dijeblosin ke mental hospital kali ye?) itu namanya cari perhatian.
Ya ga?
Bener ga?
Tapi kamu tahu dia ngomong apa?
“Di tengah lautan manusia yang semuanya berpasangan di pantai, ada seorang perempuan duduk seorang diri dengan pede, menulis-nulis di buku diary sambil memandang ke laut lepas. Kamu kira itu ga menarik perhatian?!?” teriaknya lagi.
Dan aku pun bengong.
Oh well, mataku yang belor ini ‘mencegahku’ (atau ‘menyelamatkanku’?) untuk mengetahui apakah orang-orang itu menganggap seorang perempuan yang duduk seorang diri di pinggir pantai, di samping sepedanya yang berwarna ngejreng (jangan salahin aku dong. Itu pilihan teman-teman tersayang!) ndengerin MP4 player, sambil menulis diary sebagai suatu bentuk menarik perhatian.
Ingatan atas obrolan di telpon kemarin ini sempat membuatku terkikik geli seorang diri tatkala aku mulai menulis diary. Ah, emang gue pikirin? Suasana pantai tidak seramai yang kuperkirakan sebelum berangkat. Dan tiba-tiba aku jadi dapat ide untuk menulis hal ini buat blog.
“Blogging? Hobby orang gila. Nulis-nulis sendiri. Menerbitkannya sendiri di internet. Kemudian nyuruh orang membacanya, dan menulis komentar! Huh!” komentar orang yang sama tatkala aku bilang ke dia salah satu hobiku adalah blogging. Huahuahuahaha ...
Nampaknya teman baruku yang satu ini akan selalu berada di kutub yang berseberangan denganku. LOL.
PT56 11.57 230909
Wednesday, July 22, 2009
Podungge
Ketika aku duduk di bangku SD/SMP aku pernah merasa bersyukur bahwa nama ‘fam’ alias marga ini tidak dicantumkan dalam akte kelahiranku sehingga aku tidak perlu malu diolok-olok teman sekolah, memiliki nama yang aneh. (Bagi orang Jawa, yang tidak memiliki ‘kebudayaan’ memiliki nama marga, tentu sangat aneh jika mereka menemukan nama ‘aneh’ – baca PODUNGGE – di belakang namaku yang sangat familier bagi orang Jawa.)
Aku lupa alasan yang tepat mengapa aku memilih mencantumkan nama fam ini di belakang namaku tatkala aku memulai aktifitas blogging di tahun 2005. Paling utama tentu adalah untuk membedakan seorang Nana yang membaptis diri menjadi seorang feminis di tahun 2003 dengan jutaan Nana lain, yang mungkin berkeliaran di dunia maya. Mempelajari feminisme dan menyadari bahwa kedua orang tuaku adalah sepupu yang memiliki nama fam yang sama, aku merasa ‘baik-baik ‘ saja untuk mencantumkan nama fam ini.
Sebelum mulai terkena wabah fesbuk, aku berpikir akulah satu-satunya Podungge yang kelayapan di dunia maya (adikku males memakai nama fam ini di belakang namanya). Itu sebabnya aku menjadi terkesima tatkala menemukan banyak ‘Podungge’ yang memiliki akun di fesbuk. My beloved Mom yang seperti ‘anak hilang di rimba belantara pulau Jawa’ tentu senang sekali mengetahui ini, dan memberiku ‘pe-er’, “Tanyakan ke mereka nama ayah atau kakek mereka siapa.” And she is always excited to hear stories about Podungge yang kutemukan di fesbuk.
Hal ini tentu berbeda denganku plus kakak adikku yang memang sejak lahir tidak mengenal keluarga besar Podungge, kecuali mereka yang pernah menyambangi Semarang. Kita tidak merasa seperti anak ayam kehilangan induk. We feel fine without having relations with our relatives.
Entah mengapa aku merasa somewhat offended ketika seorang Podungge menyapaku, “Kamu Podungge? Asli Semarang ya?”
Entah mengapa aku merasa pertanyaan itu seperti menuduhku mengaku-ngaku sebagai seorang Podungge.
Mana ada Podungge asli Semarang?
Namun tatkala mengajar di kelas tentang ‘hometown’ aku selalu berkata kepada para siswa, “Hometown is the town where we were born and raised.” Untuk definisi ini tentu Semarang adalah my ‘hometown’. Kalau aku mengaku Gorontalo sebagai my hometown, well, I know nothing about this town kecuali bahwa kota ini terletak di Sulawesi Utara, bahwa kota ini terkenal sebagai penghasil kopra, bahwa kerajinan kain kerawang terkenal berasal dari Gorontalo; makanan khas Gorontalo yang biasa dibuat oleh Nyokap adalah binthe biluhuta dan biluluhe, plu sambal dabu-dabu.
Only those things. Nothing else.
Aku tidak merasa perlu mengaku-ngaku sebagai seorang Podungge, kalau dalam darahku tidak mengalir darah Podungge.
Aku juga tidak pernah merasa diuntungkan menggunakan nama Podungge di belakang namaku.
Jadi kepikiran to change my name in the cyber world.
But di dunia perbloggingan Indonesia, nama NANA PODUNGGE sudah telanjur terkenal. (Narsis MODE ON).
However, Shakespeare said, “What is in a name?”
Yeah, so ... NANA PODUNGGE jalan terus lah. LOL. For temporary perhaps. But maybe also permanently.
(Just wanna spit what has bothered my mind. Nana sedang PMS kali. LOL.)
PT56 23.32 210709
Aku lupa alasan yang tepat mengapa aku memilih mencantumkan nama fam ini di belakang namaku tatkala aku memulai aktifitas blogging di tahun 2005. Paling utama tentu adalah untuk membedakan seorang Nana yang membaptis diri menjadi seorang feminis di tahun 2003 dengan jutaan Nana lain, yang mungkin berkeliaran di dunia maya. Mempelajari feminisme dan menyadari bahwa kedua orang tuaku adalah sepupu yang memiliki nama fam yang sama, aku merasa ‘baik-baik ‘ saja untuk mencantumkan nama fam ini.
Sebelum mulai terkena wabah fesbuk, aku berpikir akulah satu-satunya Podungge yang kelayapan di dunia maya (adikku males memakai nama fam ini di belakang namanya). Itu sebabnya aku menjadi terkesima tatkala menemukan banyak ‘Podungge’ yang memiliki akun di fesbuk. My beloved Mom yang seperti ‘anak hilang di rimba belantara pulau Jawa’ tentu senang sekali mengetahui ini, dan memberiku ‘pe-er’, “Tanyakan ke mereka nama ayah atau kakek mereka siapa.” And she is always excited to hear stories about Podungge yang kutemukan di fesbuk.
Hal ini tentu berbeda denganku plus kakak adikku yang memang sejak lahir tidak mengenal keluarga besar Podungge, kecuali mereka yang pernah menyambangi Semarang. Kita tidak merasa seperti anak ayam kehilangan induk. We feel fine without having relations with our relatives.
Entah mengapa aku merasa somewhat offended ketika seorang Podungge menyapaku, “Kamu Podungge? Asli Semarang ya?”
Entah mengapa aku merasa pertanyaan itu seperti menuduhku mengaku-ngaku sebagai seorang Podungge.
Mana ada Podungge asli Semarang?
Namun tatkala mengajar di kelas tentang ‘hometown’ aku selalu berkata kepada para siswa, “Hometown is the town where we were born and raised.” Untuk definisi ini tentu Semarang adalah my ‘hometown’. Kalau aku mengaku Gorontalo sebagai my hometown, well, I know nothing about this town kecuali bahwa kota ini terletak di Sulawesi Utara, bahwa kota ini terkenal sebagai penghasil kopra, bahwa kerajinan kain kerawang terkenal berasal dari Gorontalo; makanan khas Gorontalo yang biasa dibuat oleh Nyokap adalah binthe biluhuta dan biluluhe, plu sambal dabu-dabu.
Only those things. Nothing else.
Aku tidak merasa perlu mengaku-ngaku sebagai seorang Podungge, kalau dalam darahku tidak mengalir darah Podungge.
Aku juga tidak pernah merasa diuntungkan menggunakan nama Podungge di belakang namaku.
Jadi kepikiran to change my name in the cyber world.
But di dunia perbloggingan Indonesia, nama NANA PODUNGGE sudah telanjur terkenal. (Narsis MODE ON).
However, Shakespeare said, “What is in a name?”
Yeah, so ... NANA PODUNGGE jalan terus lah. LOL. For temporary perhaps. But maybe also permanently.
(Just wanna spit what has bothered my mind. Nana sedang PMS kali. LOL.)
PT56 23.32 210709
Friday, July 10, 2009
Maron 8 Juli 2009

Rabu 8 Juli 2009 di pantai Maron, sekitar pukul 06.25, suasana ternyata sudah sangat ramai. Di pelataran parkir, puluhan bahkan mungkin ratusan sepeda motor berjajar dengan rapi. Ada juga sekitar sepuluh mobil diparkir di tempat yang berbeda. Di pantai ratusan orang, tua muda, besar kecil, laki-laki perempuan telah bermain air dengan riang gembira. Ada juga berpuluh pasang muda mudi asyik bercengkerama, masing-masing memilih ‘pojok’ (kalau ada tempat yang bisa disebut ‘pojok’ di Maron). Ada yang masih terlihat malu-malu tapi mau. Namun ada juga yang mungkin merasa dunia hanya milik mereka berdua saja, sehingga tidak peduli lagi apakah orang-orang lain memperhatikan apa yang mereka lakukan.
Mungkin aku satu-satunya ‘turis’ (berarti bukan nelayan ataupun penjual yang berangkat ke pantai Maron untuk melakukan kegiatan mencari nafkah, melainkan untuk menikmati suasana pantai) yang berangkat ke sana naik sepeda. Mungkin juga aku satu-satunya turis yang datang ke tempat itu sendirian.
Namun aku tetap menikmati apa yang kulakukan: menghirup udara pantai di pagi hari yang segar, sekaligus menghirup bau asin air laut; mendengarkan musik dari media player, memandang laut lepas yang tak berujung, membaca buku atau menulis diary.
Kadang-kadang tak bisa kuhindari memandang sepasang kekasih yang duduk tidak jauh dari tempatku duduk. Atau sebuah keluarga kecil dengan anak bayinya yang mungkin belum berusia satu tahun.
Jadi ingat semalam seorang teman lama menelponku, “Kamu ngapain sih Na masih single aja sampai sekarang? Enak ya single? Bisa bebas ngapain aja begitu?”
Where did that jealousy go?
Jealousy to see another couple holding hands while walking in a mall.
Jealousy to see another couple chatting and giggling intimately.
Jealousy to see another ‘happy complete family’
Those jealousies were taken away by my big confidence to be alone, to live by myself.
Dan di sini, di pantai Maron, aku merasa begitu ‘complete’ meski aku duduk seorang diri memandang laut. Happiness is fulfilling my psyche inside.
Anyway, I have a plus one at home.
PT56 13.43 080709
Subscribe to:
Posts (Atom)

