Saturday, April 15, 2017

2 0 1 5

Colorful 2015 :)


MARET 2015

Mendadak aku mendapatkan begitu banyak waktu luang hingga aku bisa leluasa untuk sepedaan to my heart’s content di bulan Maret 2015. Saat yang tepat buatku untuk mewujudkan keinginanku untuk menggenjot kemampuanku bersepeda.

Keinginan untuk menjadi salah satu peserta gowes Srikandi B2W Indonesia mulai mengkristal sejak tahun 2013. Alasannya sepele sih, agar bisa mbolang bersepeda gratis. Hihihi ... Tahun 2013 dan tahun 2014 aku tersisihkan dari seleksi srikandi tingkat Jawa Tengah dan DIY mungkin karena aku tidak memiliki waktu yang cukup untuk latihan. Maka, mulai pertengahan tahun 2015 itu, aku bersepeda hampir tiap pagi, menempuh jarak dan trek yang bervariasi. Mulai dari 30 km per latihan, hingga kurang lebih 80 km. Mulai dari trek datar, rolling, hingga tanjakan.

Bener, hanya demi agar bisa mbolang bersepeda gratis nih?

Mungkin ada yang bertanya begitu. Well, dari pengalaman Ranz – my biking soulmate – saat mengikuti event Srikandi tahun 2012, dia mendapatkan banyak hal, selain pengalaman. Mulai dari sepeda – Cleopatra, sepeda polygon cleo 2.0 yang dibuat khusus untuk kaum perempuan, yang sejak tahun 2014 ngendon di Semarang – hingga helm, tas pannier, jersey, kaos, gloves, dll. Awalnya, tentu juga aku pingin punya sepeda baru, gratis. (hohoho ...) Namun, ternyata mulai tahun 2013, para peserta event Srikandi tak lagi mendapatkan sepeda gratis. Mungkin B2W Indonesia tak lagi mendapat sponsor ‘seheboh’ tahun sebelumnya ya?

Oh well, jika para peserta event Srikandi tak lagi mendapatkan sepeda dll, ya aku hanya bisa menjawab, “ingin ikut Srikandi demi bisa mbolang bersepeda gratis” kan? LOL.

Pada saat yang bersamaan – well, sebelum Maret sih – kebetulan aku punya gebetan (baru). Ehem ... satu hal yang ‘kusyukuri’ dari memiliki gebetan adalah mendadak aku jadi puitis (kembali). Kekekekeke ... I love being poetic, honestly. LOL. Namun, ternyata, aku butuh seseorang untuk menjadi ‘trigger’. :D (I am not a real poet, eh? LOL.)

Barangkali status-status di akun medsos itu membuat orang tahu aku sedang kasmaran. LOL. (Shhhttt ... beberapa bulan kemudian aku menyadari bahwa aku hanya sekedar naksir, bukan jatuh cinta. Konon, jika rasa suka itu tak lebih dari 4 bulan, itu hanya sekedar naksir. Jika sampai taraf jatuh cinta, rasa itu akan jauh lebih lama ngendon di hati. KONON. LOL.) Karena satu hal, status-status kasmaranku berhenti di bulan Maret itu. Berganti dengan status sepedaan kesana kemari. Dalam rangka menyiapkan diri untuk seleksi Srikandi.

Dan ternyata orang berpikir bahwa sepedaanku yang sedemikian rupa itu adalah pelarianku. Hadeeehhh ... Padahal beneran aku sepedaan untuk melatih diri. (Oh well, sejak kapan aku menggunakan istilah ‘latihan’ ya waktu sepedaan? LOL. Padahal sekian tahun lalu, aku tertawa ketika seseorang bertanya, “Masih rajin latihan Mbak?” pertanyaan yang dia maksud sebagai, “Masih sepedaan Mbak?” LOL. People really change now and again ya? LOL.)

Well ... setelah ‘latihan’ sedemikian rupa, ternyata aku juga tetap tidak terpilih untuk mewakili Jateng dan DIY dalam event Srikandi tahun 2015 itu. Aku punya excuse sih untuk ini. LOL. (1) dari segi usia, aku lebih tua dibanding Dyah yang terpilih. Kita berdua sama-sama rajin latihan, namun dia yang lebih muda plus didukung sepeda yang jauh lebih mumpuni ketimbang yang kunaiki, tentu memiliki stamina dan performa lebih prima ketimbang aku. Di kesempatan seleksi itu, aku sudah cukup bangga karena performaku lebih bagus ketimbang peserta seleksi lain, yang lebih muda dariku, yang juga didukung dengan sepeda yang jika dlihat kualitasnya lebih bagus ketimbang sepeda polygon cleo 2.0 yang kunaiki. (2) mmm ... apa ya yang akan kutulis? Lupa. LOL.

Setelah seleksi, mendadak hasratku untuk terus ‘latihan’ dengan rajin hilang. L Meskipun, well, di tahun 2015 itu aku masih lumayan rajin sepedaan di pagi hari. Latihan enduro dengan bersepeda ke alun-alun Demak tak lagi kulakukan ketika ada kecelakaan yang menimpa seorang pesepeda Semarang. Saat melakukan turing Semarang – Kudus, dalam perjalanan Semarang – Demak, beliau jatuh gegara lubang di jalan. Bersepeda dengan kecepatan tinggi, melewati lubang seperti itu sangatlah berbahaya. Beliau jatuh – entah karena tak mampu menjaga keseimbangan waktu melewati lubang, atau justru karena menghindari lubang, mengambil arah ke kanan, sialnya di belakang ternyata ada truck yang langsung menggilasnya. L

Berita kecelakaan itu begitu menyentakkanku. Sejak saat itu, aku tak lagi sepedaan sendirian ke arah Demak. (Hingga beberapa minggu lalu, aku kembali menyusuri jalan yang sama sendirian, bahkan kulanjutkan hingga sampai Kudus.)


Terminal Bangsal Lombok 


Keinginanku mbolang bersepeda gratis ternyata terwujud juga di tahun 2015 itu. Bukan dengan ikut event Srikandi, namun ditraktir Ranz. Cihuyyy J Melihatku terpuruk tidak terpilih (lagi) dalam seleksi Srikandi, dan Ranz pun menyalahkan dirinya karena tak bisa ‘melatihku’ untuk mendapatkan performa yang jauh lebih baik, apalagi menyediakan sepeda yang jauh lebih baik dari ‘hanya sekedar’ polygon cleo 2.0, membuat Ranz bertekad mengajakku mewujudkan impian kita berdua.

Awal bulan Mei 2015, Ranz mengajakku mbolang ke ujung JawaTimur. Dia memanjakanku dengan menyewa satu cottage di pinggir pantai Bama dua malam. Dia tahu telah lama aku bermimpi tidur di pinggir pantai, dimana ketika bangun pagi hari, aku cukup keluar dari cottage, aku akan langsung memandang pantai. Pantai Bama kebetulan terletak di sisi Timur, hingga kita cukup keluar cottage, menunggu matahari terbit dan kita akan bisa mengabadikan pemandangan sunrise!

Bama adalah satu lokasi yang nyaman untuk menyepi karena kita tak akan bisa dihubungi oleh siapa pun. Tak ada sinyal hape, apalagi internet. :D Di savana Bekol, kita masih bisa terhubung dengan ‘dunia luar’. Namun di Bama, yang terletak hanya 3 kilometer dari Bekol, kita bisa benar-benar menyembunyikan diri dari keramaian.

Bama juga adalah tempat yang lengkap untuk ber’autis ria’. Ingin memandang laut lepas? The sea is exactly in front of our nose. Mau bercinta dengan hutan? Ada hutan Baluran. Ingin memanjakan mata dengan pemandangan padang rumput yang luas? Bekol lah tempatnya! Nothing else you need, right? J

Satu setengah bulan kemudian, Ranz kembali menraktirku, mewujudkan impian kita (yang lain) menjadi nyata : bersepeda di Bali, bahkan hingga Lombok! Tak hanya dalam waktu 3 – 5 hari seperti ketika kita bikepacking. Kali ini kita dolan dalam kurun waktu hampir 2 minggu! Ini termasuk dua hari pp Solo – Banyuwangi, Banyuwangi – Solo naik KA Sritanjung.

Bersepeda di Bali telah menjadi impianku (mungkin juga Ranz) sejak tahun 2012, saat Da ikut event BALI BIKE yang diselenggarakan oleh Kompas. Jika event BALI BIKE hanyamakan  waktu 3 hari, aku dan Ranz mbolang di kawasan Bali dan Lombok selama kurang lebih 10 hari. Isn’t it SOMETHING?

Impian bersepeda ke Baluran dan Bali + Lombok (for FREE, for me) akhirnya menjadi kenyataan di tahun 2015 karena hal-hal yang kutulis di atas. 

It is 2017. Mari bermimpi bersepeda ke Wae Rebo, Labuan Bajo, atau kemana lagi yang belum pernah kita kunjungi. Semoga impian kita menjadi kenyataan. Amin. J


LG 15.51 13042017

Saturday, January 14, 2017

Travel Blogger

TRAVEL BLOGGER

Aku mulai ngeblog akhir tahun 2005. Nulis tentang kegelisahan yang kurasakan; tentang ‘equality’; tentang spiritualitas; tentang kehidupan sehari-hari yang ga penting. Pokoknya nulis. Maka, ketika mulai mengenal bersepeda di pertengahan tahun 2008, aku pun menuliskannya di blog. Sekedar sebagai ‘arsip’ untuk diri sendiri, selain untuk mengkampanyekan gaya hidup sehat = bersepeda ke tempat kerja.

Bermula dari itu, aku pun menuliskan kisah dolanku yang kulakukan dengan bersepeda. Mulai dari ‘mini turing’ yaitu waktu B2W Semarang mengadakan sepedaan bareng komunitas lain ke Kudus, bulan April 2011. Hingga tentunya awal mula aku ‘mbolang’ berdua dengan Ranz. (Eh, waktu dolan rame2 ke Jogja dengan kawan2 angkatan awal B2W Semarang itu aku juga menulisnya buat blog, akhir November 2008.)



Jika tidak salah ingat, pertengahan tahun 2013 aku mendaftarkan diri sebagai penyumbang tulisan di wego.co.id Yang membuat tulisanku berbeda dari para penulis lain di laman itu tentu karena aku dolan bersepeda, istilah lainnya “bikepacking”; sementara banyak orang lain yang dolannya “backpackeran”. Beberapa tulisanku sempat nangkring disana, entah sekarang masih ada ga ya? Karena ketika dewan redaksi wego diganti, ketika aku mengirim tulisan kesana, ga ada kabar lanjutannya lagi, entah ditolak, entah diterima. Oh ya, aku menulis disana gratisan lho, alias tidak dibayar. Tapi aku mendapatkan satu buah kenang-kenangan, yaitu tas punggung yang bisa dilipat, berwarna hijau ngejreng, dengan tulisan WEGO di bagian luar hingga mudah dibaca orang.

Awal mulanya tulisan-tulisan tentang sepedaanku itu kupost di blog yang telah kupunyai semenjak tahun 2006, yakni di http://themysteryinlife.blogspot.com dan juga kucopy-paste di satu blog yang lamannya telah almarhum semenjak awal tahun 2013.

Awal tahun 2013 itu, Ranz – pasangan mbolangku sejak tahun 2011 – mulai bikin blog juga. Dia mulai menuliskan pengalaman kita di blog, menggunakan sudut pandangnya sendiri, yang tentu membuat tulisan kita sedikit berbeda. Nah, ‘terprovokasi’ blog Ranz itulah, akhirnya aku membuat blog yang khusus kugunakan untuk menampung segala tulisan yang berhubungan dengan sepedaan, baik itu kisah (pendek) tentang bersepeda ke kantor, maupun kisah mbolang ke kota-kota sekitar dengan bersepeda. Ini mempermudah diriku sendiri jika aku butuh membaca (lagi) tulisanku tentang sepedaan, ketimbang membiarkannya terselip di blog lain. Dan ternyata, semenjak membuat blog yang beralamat di http://mybikingdiary.blogspot.co.id inilah satu-satunya blog yang kuisi dengan rajin tiap bulannya. :D blog yang lain keter. Aku tak lagi rajin menulis untuk mengisi blog yang lain. (gosh, I really need a ‘trigger’ for this!)

Nah, kemarin aku membaca satu status yang protes tentang ‘penggunaan’ kata ‘travel blogger’ oleh sebuah iklan. Konon si model iklan mengaku sebagai seorang ‘travel blogger’, padahal yang dilakukannya hanya posting foto di instagram dan memberinya sedikit keterangan tentang foto itu. That’s all. Di status itu, lumayan juga yang komen dengan nada yang sama, protes. Emang model iklan itu ngeblog? Mana alamat blognya? Emang dia menulis tentang tempat-tempat yang telah dia kunjungi di blog itu? Etc. Kalau hanya posting foto di instagram, plus keterangan disana, ya jangan mengaku sebagai ‘travel blogger’ dong.

Terkesan nyinyir yak? Hihihi ...

Tapi mungkin memang ada benarnya. Tidak semua orang memiliki bakat – dan kemauan – untuk menulis; termasuk menulis tentang kisah perjalanannya. Mungkin ada yang ‘hanya’ mampu menulis sepatah dua patah kata tentang foto yang dia ambil waktu bepergian. Mungkin juga hanya satu dua kalimat. Lantas, jika seseorang seperti itu mengaku diri sebagai seorang ‘travel blogger’, ya biarkan sajalah. J meski dia mengunggahnya ‘hanya’ di instagram, atau di media sosial seperti facebook, bukan di laman blog, seperti blogspot maupun wordpress. Biarkanlah dia bahagia. :D “What is in a name?” kata Shakespeare. LOL. Toh, akhirnya “dunia” yang akan memilah dan memilih apakah seseorang memang benar-benar seorang ‘travel blogger’ atau hanya sekedar seorang instagramer, or apa pun itu.

Aku?

Meski hanya satu blog yang rajin ku-update, yang lain keteter, LOL, aku tetap merasa sebagai seorang blogger. :D 

Seorang ‘travel blogger’? aiiihhh, emang gue pikirin? LOL.


LG 16.35 13/01/2017 

Tuesday, September 06, 2016

Antara poligami dan simpan menyimpan :p

Antara poligami dan simpan menyimpan :p

Semenjak aku mendidik diri menjadi seorang feminis dengan banyak membaca buku/jurnal yang ditulis dengan sudut pandang feminis, aku mulai membenci poligami, satu praktik yang dianggap melecehkan posisi kaum perempuan, di mata para feminis. Ini sekitar tahun 2003 – 2004. (Better late than never kan ya? J ) Well, tentu saja sebelum aku mencapai titik awakening a.k.a pencerahan (lebay ya rapapa ta? :p), aku pernah berpikir bahwa mungkin memang poligami diporbolehkan dengan alasan bla bla bla ... bahwa mungkin poligami adalah kesetaraan bagi perempuan lain yang karena kehabisan stok laki-laki di dunia ini hingga mereka terpaksa jomblo. LOL. Ini, gegara aku percaya omongan orang bahwa jumlah perempuan di dunia ini empat kali lipat ketimbang laki-laki. LOL.

Setelah mendapat pencerahan, terlebih lagi setelah mendapat fakta di internet tentang sex ratio atau perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan di seluruh dunia, pada umumnya, dan di Indonesia pada khususnya, dan mendapati bahwa kepercayaan jumlah perempuan empat kali lipat ketimbang jumlah laki-laki ternyata hanya omong kosong belaka, tipu-tipu para pemuja selangkangan untuk mendapatkan legalisasi menikahi lebih dari satu perempuan, aku tentu saja tak lagi mudah dibohongi. LOL. (Big thanks to internet!)

Check this link for sex ratio in the world. 

gambar diculik dari sini :)

Meski membenci praktik poligami, aku tentu masih bisa menerima alasan beberapa atau banyak perempuan yang terlibat di dalamnya, yang kupandang memang menguntungkan diri mereka, asal tak satu pun perempuan yang tersakiti, misal istri pertama. Misal, dengan menjadi istri kesekian mereka akan bergelimang harta. Itu hak mereka. Namun satu hal pasti, aku juga berhak untuk tidak menaruh hormat pada perempuan sejenis itu.

Namun apalah aku ini. Ga ngaruh banget kan ya rasa tidak hormatku pada mereka ini? LOL.

Sekitar tahun 2005 dulu, aku pernah secara selintas kenal seorang perempuan yang menjadi istri kesekian seorang laki-laki, hanya agar tidak dicereweti oleh orangtuanya karena orangtuanya lelah disorot tetangga mengapa anak perempuannya menjadi perawan tua. Kondisi keuangannya cukup stabil karena dia memiliki pekerjaan yang mapan. Dia awalnya enggan menikah karena tidak ingin terlalu dikekang mau begini mau begitu oleh seorang laki-laki. Pilihan menjadi istri kesekian seorang laki-laki dia ambil setelah dia dan suami paruh waktunya itu menulis perjanjian pranikah bahwa pernikahan mereka hanya resmi di atas selembar kerta tak bermakna dengan satu-satunya tujuan : menghindari dirongrong oleh orangtua si perempuan. Setelah menikah, perempuan ini tetap tinggal di kota kelahirannya, di ujung Selatan pulau Jawa bagian tengah. Si laki-laki kembali ke pelukan istri sebelumnya, di satu kota metropolitan yang selalu hiruk pikuk.

Untuk alasan keterlibatan dalam poligami seperti ini, meski aku tetap kasihan pada nasib si perempuan (yang memiliki orangtua yang kalah oleh social pressure) aku tidak akan menyinyirinya. LOL.

Bagaimana dengan seorang perempuan yang memilih menjadi simpanan? Alias pacar gelap yang tidak dinikahi secara resmi?

Well, aku belum pernah punya teman atau kenalan yang menjadi simpanan seorang laki-laki, jadi aku tidak tahu apa alasan utama mereka memilih jalan seperti itu, selain gelimang harta. Namun jika ternyata ada seorang perempuan yang memilih jalan ini dengan tanpa gelimang harta, errr ..., percayakah kau pada cinta sejati?

Aku tidak. LOL. Alasannya simpel, aku belum pernah mengalaminya. Memiliki cinta sejati pada seseorang yang bukan merupakan bagian dari darah dagingku. :D

Apakah aku perlu dikasihani? LOL. Terserah kamu laaah. LOL.

Trigger postingan ini tertulis adalah satu status seorang kawan fesbuk tentang seorang kenalannya yang menjadi simpanan seorang laki-laki yang kaya raya, selama puluhan tahun. Perempuan ini secara penampilan cantik mempesona, kata temanku. J si laki-laki pun selain kaya raya juga gagah dan ganteng. Kata status itu.

gambar diambil dari sini 


Setelah sekian puluh tahun jadi simpanan, si perempuan akhirnya dinikahi, setelah istri resmi si laki-laki meninggal dunia. Sebelum pernikahan, mereka menandatangani perjanjian pranikah bahwa selama pernikahan, si perempuan akan mendapatkan ini itu itu ini bla bla bla ... harta warisan tidak masuk dalam hak si perempuan. Berarti ini seperti kontrak kerja ya? Begitu si laki-laki meninggal, si perempuan seperti kehilangan pekerjaan, tanpa pesangon. J
Konon dia memang hidup bergelimang harta. Rumah seharga miliaran rupiah dia miliki, mobil seharga ratusan juta, liburan ke Eropa, dll. Jika dia teliti secara ekonomi, dia bisa menabung untuk pesangonnya sendiri di masa tua.

Nah!

Di satu sisi harus kuakui perempuan ini cerdik. Konon kelemahan laki-laki – yang bagi orang lain bisa jadi adalah kekuatannya – terletak di antara kedua kakinya. Mungkin perempuan ini telah ‘menaklukkannya’. :D

(Eh, jadi ingat, di satu sesi Sex and the City, Carrie bertemu dengan seorang kenalannya yang hidup dengan cara menjadi simpanan laki-laki jetset dunia, melanglang buana dari satu negara ke negara lain, satu benua ke benua lain. Bedanya adalah, kenalan Carrie ini berganti-ganti laki-laki yang “menyimpannya”, perempuan di status kawan fesbukku “setia” pada satu laki-laki. Well, mungkin setia mungkin juga tidak. LOL.)

Namun seperti Carrie yang memilih menghindari gaya hidup seperti ini, dengan tetap bekerja sebagai seorang kolumnis, aku juga lebih memilih menjadi diri sendiri, ketimbang menjadi perempuan cerdik yang menaklukkan kelaki-lakian seorang lelaki untuk bergelimang harta. (amerga ora ana sing nawari aku dadi sing ngono kuwi. Eh, abaikan! Kekekekeke ...)

Lifestyle is indeed just a matter of choice.

Mau memilih menjadi istri kesekian seorang laki-laki demi alasan apa pun, atau menjadi simpanan seorang (atau banyak) laki-laki demi bergelimang harta, atau cukup menjadi seorang pejalan hidup sederhana yang kemana-mana naik sepeda sepertiku. LOL. Yang penting tetap bisa menikmati hidup.

Which is your pick, girls?


LG 11.09 06/09/2016 

Tuesday, August 23, 2016

FIRST IMPRESSION

How accurate is your first impression on someone?

Ini adalah satu topik yang kubahas di satu kelas di tempat aku mengajar. Well, seperti banyak 'proverb' yang ada -- misal "Never judge a book by its cover" atau "Don't judge a horse by its saddle" tentu kita tahu bahwa sering kali kita menarik kesan yang salah pada seseorang di pertemuan pertama.

Anak-anak memberi contoh pertemuan pertama mereka dengan teman-teman sekelas, setelah naik kelas dan memasuki kelas baru, dengan classmates baru. Kebanyakan dari mereka menyebutkan hal-hal yang mirip. Mereka kira teman-teman baru mereka adalah siswa-siswa yang rajin, serius belajar, dan egois (misal, ga mau berbagi waktu mengerjakan pe-er, dll) Namun setelah beberapa minggu berlalu, ternyata teman-teman baru mereka ya tidak jauh beda dari teman-teman di kelas lama. Kadang rajin, kadang malas, kadang serius belajar, kadang fun, dan ... kebanyakan tidak egois berbagi mengerjakan tugas. :)

gambar diambil dari sini

(FYI, kebetulan hari itu, semua siswa yang masuk bersekolah di sekolah yang sama, the most favorite high school di Semarang. #nomention. LOL.)

Tak lama setelah membahas tentang first impression ini, mendadak aku mendapatkan first impression dari seorang penjual jus. :)

Sudah beberapa bulan terakhir -- mungkin sudah hampir satu tahun -- aku berlangganan beli jus di satu kios kecil yang khusus berjualan aneka jus di satu jalan yang tak jauh dari Pasar Bulu Semarang. Mungkin saking seringnya aku mampir di situ (sekitar 3-4 kali seminggu), si penjual menghafal wajahku. Atau mungkin karena aku kadang mampir naik sepeda ya? :)

Seminggu yang lalu, si mbak penjual jus itu mendadak menyatakan first impression-nya padaku. "Ibu hidupnya bahagia ya?"

Aku kaget mendengarnya. Owh, ternyata, tanpa kusadari wajahku menampilkan wajah bahagia ya setiap kali aku mampir ke situ? Sebenarnya, aku ingin mengatakan, "Urip iku sawang sinawang Mbak ..." Namun, entah mengapa, aku tidak jadi mengatakannya. Sebagai ganti, aku mengatakan, "Hidup ini harus dinikmati Mbak ... apa pun adanya ... maka kita akan bahagia." Kemudian aku tertawa; entah apa yang membuatku tertawa. LOL.

Nah, melihatku tertawa, seolah dia mendapatkan pembenaran atas pernyataannya bahwa hidupku bahagia. LOL. "Nah kaaan ... hidup Ibu bahagia kan?" katanya. Aku pun melanjutkan tertawaku sambil mengangguk-angguk.

Jika memang kesan yang aku tampilkan pada orang-orang di sekitar bahwa aku adalah orang yang hidupnya bahagia, dan itu berimbas pada mereka, let it be that way. :)

Tapi, aku tidak akan pernah lupa beberapa tahun yang lalu, seorang siswaku pernah berkata padaku, "When you are serious, you look so scary!" LOL.

Nah lo. LOL.

IB180 20.29 23.06.2016

Thursday, August 18, 2016

(Ng)artis :D

ARTIS?

Mungkin pernah satu kali aku merasa diri “ngartis” ketika mendadak orang-orang di sekitar tempat tinggalku memperhatikan kebiasaan “baru”ku (8 tahun lalu masih baru, sekarang sih sudah delapan tahun berlalu LOL) yakni bersepeda berangkat kerja. Kayaknya aku sudah pernah menulis tentang hal ini, tapi aku lupa, aku posting di blog yang mana. LOL. (Beneran sok ‘ngartis’ yak? Blog aja bejibun. LOL.)

(Hmmm ... you may check this link and that link.)

Tapi apakah aku memang berniat untuk ngartis tatkala pertama kali memutuskan untuk bersepeda ke tempat kerja?

Tentu saja tidak.

foto lawas, masih a newbie lady b2wer :D

Kala pertama kali bersepeda ke tempat kerja, aku merasa itu adalah “tanggung jawab moral” karena mendadak aku menjadi bagian dari satu organisasi pemerhati lingkungan, yakni komunitas B2W Semarang. Jadi anggota organisasi seperti ini masak aku ga mempraktekkannya sendiri : bersepeda ke tempat kerja? Malu lah pada rumput yang bergoyang. LOL. (ga nyambung ya? Biarin deh. LOL.)

Jika kemudian aku menulis apa-apa yang berhubungan dengan sepedaan ya tentu karena aku suka ngeblog. Pertama, sebagai arsip untuk diriku sendiri. Pengingat aku telah ngapain ngapain. Kedua, berhubung aku ketiban sampur “jabatan” sekretaris di awal pembentukan B2W Semarang, ya tentu aku dengan suka cita menuliskan apa-apa yang berhubungan dengan organisasi plus aktifitas bersepeda.

Jika kemudian di tahun 2011 aku “menemukan” soulmate mbolang dengan bersepeda, ya tentulah aku menuliskan kisah mbolang kita kan ya di blog? Untuk kisah dolan bersepeda ini murni hanya untuk arsip untuk diri sendiri. Jika kemudian banyak yang terinspirasi melakukan hal yang sama – dolan dari kota ke kota dengan bersepeda – tentu aku sangat excited karenanya. Karena sebenarnya aku pun terinspirasi mereka-mereka yang melakukan hal ini sebelum aku bertemu Ranz. Ini semacam efek domino, saling menginspirasi, saling mempengaruhi. J Kuanggap ini adalah hal yang positif, jadi ... nothing wrong with this kan? J

otw mbolang ke Tawangmangu, Desember 2011

Di tahun 2013 B2W Semarang melakukan pemilihan ketua baru, karena B2W pusat meminta kita di Semarang untuk melakukan “penyegaran” ini. Alasannya ga perlu kutulis disini ya? Yang pasti, secara pribadi maupun sebagai sekretaris B2W Semarang tahun 2008 – 2013 aku merasa Om Triyono (ketua kedua organisasi) telah cukup berhasil menggaungkan nama “B2W Semarang”; bahwa organisasi bike-to-work ini tidak hanya ada di Jakarta, namun di Semarang pun juga ada.

Voting pemilihan ketua ini menghasilkan om Ariyanto Bjo sebagai ketua B2W Semarang di tahun 2013. Om AB – nama bekennya – memilihku sebagai wakil ketua.

Akan tetapi, hal ini tidak berlangsung lama. Om AB pindah ke Jakarta di tengah tahun itu, karena urusan pekerjaan. Dia menyerahkan tanggung jawab sebagai ketua kepadaku. Aku menolak dengan halus, awalnya, karena dia bilang akan tinggal di Jakarta hanya sampai akhir tahun itu. Kita menunggunya balik ke Semarang saja untuk melakukan hal-hal yang sempat kita rencanakan waktu rapat pengurus awal.

Namun ternyata di awal tahun 2014, Om AB bilang pekerjaannya memaksanya untuk tinggal di Jakarta lebih lama, tanpa kepastian kapan bisa balik ke Semarang. Dengan sedikit memaksa, dia memintaku menerima tampuk ketua B2W Semarang. Secara resmi dia juga mengirim email pengunduran diri pada B2W Pusat.

waktu menghadiri gathering korwil B2W Jateng DIY, Juni 2012

Februari 2014 itu, aku dan Ranz memulai mengadakan gowes malam di hari Jumat terakhir tiap bulan untuk mengkampanyekan penggunaan sepeda sebagai moda transportasi, sekaligus sebagai ajang silaturrahmi para pesepeda kota Semarang. Kita memberi nama event ini segowangi. Ini pun gegara aku ‘disentil’ oleh Om Poetoet (mendagri-nya B2W Pusat) untuk mengadakan kegiatan ini, seperti kota-kota lain. Dengan catatan penyelenggaraannya tertib, tidak menuh-menuhin jalan raya yang mungkin malah membuat pengguna jalan lain ill feel pada para pesepeda. J pokoknya motto SHARE THE ROAD harus terus menerus diusung.

Segowangi memang tidak pernah se’spektakuler’ JLFR (Jogja Last Friday Ride) maupun SLFR (Solo Last Friday Ride) atau ICMR (Indonesia Critical Mass Ride) yang pesertanya bisa mencapai ribuan pesepeda. Namun, bagiku pribadi, aku lebih suka seperti ini, paling banter hanya sekitar 100 pesepeda yang gabung. Jika sampai ribuan orang dan menghasilkan ‘kericuhan’ seperti yang terjadi di Solo, kayaknya aku akan pensiun saja menyelenggarakan segowangi. LOL.

segowangi 1, Februari 2014, bersama Pak Wali, Hendradi

Selain segowangi, beberapa kali kita juga mengadakan TweedRide. Event ini bisa dikatakan sebagai kampanye bike to work, karena kita bersepeda dengan mengenakan busana resmi, seperti ketika kita berangkat bekerja. Bukan karena aku pingin “ngartis” lhooo, LOL, tapi karena mendapat mandat dari B2W Pusat untuk menyelenggarakan ini. Kalau Jakarta tidak mengadakan, duh, ngapain aku repot-repot yak? Mending juga sepedaan sendiri dengan kawan-kawan yang membuatku nyaman bersepeda bareng, dengan mengenakan baju yang jauh lebih nyaman untuk sepedaan. Mana kontur kota Semarang naik turun gini. LOL.

Lalu ... ketika seseorang ngatain aku “sok ngartis” di bidang sepedaan ini, helloooo ... kira-kira alasannya apa yaaa?

TweedRide 1, Oktober 2014

Hmmm ... mungkin maksudnya aku bukannya “sok ngartis” ... tapi memang dia menganggapku artis. Kekekekeke ... padahal kata “artist” yang diambil dari Bahasa Inggris itu artinya seniman yak? Aku bukan seniman, aku Cuma bersepeda ke kantor, Cuma mbolang naik sepeda. Cuma sepedaan dengan mereka-mereka yang pingin sepedaan bersama-sama. Cuma itu. Ga lebih.

Nothing special with that. J


LG 14.54 18/08/2016 

Tuesday, August 16, 2016

Faktor U

Beberapa tahun yang lalu, seorang (eks) rekan kerja mengeluh padaku bahwa telapak kakinya sakit jika dipakai untuk menapak, terutama di pagi hari, saat turun dari tempat tidur. Karena aku tidak, eh, belum pernah mengalaminya, aku tidak bisa menjawab apa kira-kira penyebabnya. Obrolan kita pun tak berlanjut, hanya sekali itu waktu dia curhat.

Beberapa tahun kemudian, seingatku tepatnya jelang akhir tahun 2014, aku mulai merasakan yang sama. Hadeeehhh ... Namun aku ingat, satu kali membaca status seorang teman di facebook yang menawarkan jus melon sebagai 'obat' keluhan ini, telapak kaki sakit waktu dipakai menapak. Untuk hasil maksimal, buatlah jus melon tanpa gula, kemudian kucuri dengan jeruk (atau lemon ya? lupa) Aku super jarang membeli jus waktu itu, apalagi membuatnya sendiri. Tidak pernah. LOL.

Waktu aku dan Ranz dolan ke Lasem, di bulan September 2014, aku melihat seorang penjual jus ketika kita mampir di satu minimarket.  Karena ingat status teman itu, aku mampir dan membeli jus melon. Inilah pertama kali aku minum jus melon. Rasanya lumayan enak. Dan ... ternyata rasa sakit di telapak kakiku menghilang! Ajaib ya? :D

diambil dari sini

Setelah itu, terkadang rasa sakit yang sama di telapak kaki ini datang, kadang hilang sendiri. Tidak terlalu mengganggu sih.

Jelang pertengahan tahun 2016 ini, aku kembali "diserang" rasa sakit di telapak kaki ini. Jika biasanya sudah langsung hilang ketika aku berjalan ke dapur di pagi hari, kali ini rasa sakit itu linger lebih lama. Dan ... rasa sakit ini jauh lebih sering datang, tidak hanya di pagi hari ketika aku turun dari tempat tidur. FYI, aku sudah jauh mengurangi konsumsi kacang, in case ini adalah tanda sakit asam urat. Aku pun semakin rajin beli (plus minum) jus melon.

Hingga satu kali aku iseng browsing tentang keluhan ini di google. Aku menemukan judul "Jangan remehkan jika anda diserang rasa sakit di telapak kaki." LHAH? JANGAN REMEHKAN? Wew. Sekian tahun ini aku sudah 'cukup' meremehkan deh. Aku cuekin saja, paling hanya minum jus melon dan mengurangi konsumsi kacang-kacangan.

Ada banyak alasan yang menjadi penyebab rasa sakit di telapak kaki ini. (Browsing sendiri aja ya? Banyak kok.) Selain tanda-tanda asam urat, ada juga karena terlalu sering berdiri, terlalu sering erobik atau melakukan satu kegiatan yang menumpukan berat tubuh di kaki, atau karena terlalu sering mengenakan sepatu high heels. (Nah, ini aku banget. LOL. Maklum, ukuran tubuhku kan mini. Wakakakaka ... Sudah lebih dari 20 tahun aku mengenakan high heels ketika bekerja. Hmft ...)

Gegara judul "jangan remehkan" itu tadi, plus ingin tahu kira-kira penyebab rasa sakit di telapak kakiku itu gegara apa, akhirnya aku ke dokter 2 minggu lalu. Oleh kantor aku mendapat fasilitas kartu BPJS, namun belum pernah kugunakan. LOL. Dan ... ternyata pak dokter cuma bilang, "Owh ... itu faktor U, Ibu. Semua orang yang telah mencapai usia empatpuluh tahunan ya bakal mengeluhkan hal yang sama. Gapapa. Itu sudah alami."

Wedew. Begitu ya? Hanya gegara faktor U?

diambil dari sini

Meskipun begitu, dari obat yang diberikan oleh dokter, rasa sakit itu hilang secara ajaib. LOL. Meski ... hanya berlangsung selama kurang lebih seminggu aku merasa kakiku super sehat wal afiat. Rasanya langsung pingin ngajak Ranz mbolang bersepeda sejauh kaki bisa mengayuh pedal. LOL.

Setelah obat habis, rasa sakit itu berangsur-angsur kembali, meski aku tetap menjauhi segala jenis kacang-kacangan dan tidak mengkonsumsi jenis makanan yang kata dokter tidak boleh kukonsumsi, misal brokoli.

Mari kita lihat perkembangannya. :)

LG 10.50 16/08/2016

Tuesday, August 09, 2016

K O R B A N

Setelah sekian bulan – hampir satu tahun mungkin – aku tidak membeli kopi hitam, pagi tadi aku membelinya. Hanya gegara ada cangkir bening yang meski tak begitu mungil namun entah mengapa aku tertarik sebagai iming-iming hadiah.  Merek kopi itu ... well ... ga perlu kusebutkan ya?#bukanstatusberhadiah 

Di bungkus tertulis "robusta arabica blend".

Setahun yang lalu aku membeli jenis kopi yang sama, yakni perpaduan antara kopi robusta dan arabica di satu perkebunan kopi yang mudah terjangkau karena lokasinya di pinggir jalan raya Semarang - Solo. Rasanya enaaak ... buat lidahku.

Namun, ternyata, oh, ternyata, rasa kopi yang kubeli tadi pagi, sama sekali tidak bisa kunikmati Well ... jatah membawa kopi itu ke kantor deh. hihihihihi ...

Btw, malam minggu lalu aku ditraktir kopi oleh seorang kawan sepeda, yang kukenal 4 tahun lalu, waktu bersepeda ke satu kawasan yang lumayan curam tanjakannya di kota Semarang, Nglimut. Kita -- aku, Ranz, dan Fajar Inu -- ngopi di satu 'angkringan' khusus kopi di pinggir Jalan Imam Bonjol. Yang menarik dari angkringan ini adalah gerobak kopi itu oleh si penjual ditarik sepeda.

Sempat bingung mau pesan kopi yang mana, aku bertanya dulu pada si penjual, apa beda kopi robusta dan kopi arabica. (Satu setengah tahun yang lalu, seseorang yang baik hati namun tidak rajin menabung  telah menjelaskan padaku apa bedanya, tapi aku lupa.  ) Si penjual bilang, kopi robusta lebih terasa pahitnya, sedangkan arabica ada rasa asem-asemnya. Berarti aku lebih cenderung ke robusta ketimbang ke arabica.

Btw (lagi), akhir-akhir ini aku tak lagi seorang penyuka kopi, aku super jarang update status tentang kopi, karena memang aku pun sekarang jarang ngopi. Atau, kalo pun ngopi (atawa ngappuccino), aku sedang tidak mood nyetatus. 

Jadi, pertanyaannya, sudahkah anda makan siang? LOL. #ganyambung yaaa


aUGUST 9, 2016