Thursday, December 14, 2017

Mantan o Mantan

Barusan baca di satu grup facebook tentang kisah seseorang yang hadir ke pernikahan mantan (pacar). Dia (perempuan) datang karena di hatinya sudah tidak ada lagi rasa suka kepada sang mantan; sehingga dia datang ya hanya sekedar untuk menghormati undangan yang dikirimkan kepadanya.

taken from here

Sungguh di luar dugaannya ketika di pernikahan itu dia bersalaman dengan sang pengantin laki-laki, si pengantin menggenggam tangannya cukup lama, sambl mengatakan sesuatu yang blas ga enak didengar, (aku agak lupa kalimat tepatnya bagaimana) "Kamu ga usah baper ya? Aku nikah duluan, Semoga segera nyusul, masak kamu single terusan?" LOL.

Karena terpana (lebay yo ben kata-kataku ini LOL), , dan ga mau kalah, si perempuan menjawab, "Aku sih gampang mencari pengganti kamu. Aku malah kasihan sama si mbak yang kamu nikahi, kok dia mau dapat bekas orang lain?"

wkwkwkwkwkwkwkwk ...

Aku sih belum pernah datang ke pernikahan mantan. Para mantan (uhuk!) menikah tanpa mengundangku, eh, karena kita juga sudah lamaaaa ga berhubungan lagi. LOL.

Beberapa tahun yang lalu mantanku (baca : bokapnya Angie) menikah. Kupikir (bukannya ge-er ya) aku akan diundang. Aku sempat mempertimbangkan kira-kira akan datang atau tidak. (seperti si mbak yang ada di kisah di atas), aku sama sekali sudah tidak ada perasaan apa pun ke dia, positif maupun negatif) Namun ternyata aku tidak diundang. Ya syukurlah. LOL.

Tapiii ... seandainya aku diundang, dan aku datang, kemudian kejadian si mbak di atas terjadi kepadaku, aku akan bilang ke dia, "Lha wong kamu itu kubuang di pinggir jalan. Kok ya mau-maunya perempuan ini memungutmu? Kalo aku, jelas ogah." LOL.

N.B:
Apa alasanmu datang ke pernikahan mantan? LOL.

IB180  14.30 14/12/2017

Thursday, December 07, 2017

Rafting bersama CitraElo



Yang namanya rezeki, kadang memang tak pernah kita duga datangnya ya? Terkadang, ... bum ... out of the blue ... sekonyong2 ... begitu saja rezeki itu datang. LOL.

Itulah yang kurasakan ketika mendadak seorang rekan kerja memberitahu bahwa kantor tempat aku bekerja sejak tahun 1996 (angkatan jadul banget! LOL) akan mengadakan outing yang berupa arung jeram a.k.a rafting.

Sebagai seorang pecinta olahraga berenang (cinta pertamaku sebelum mengenal sepedaan, well, meski aku tentu telah bisa bersepeda sejak duduk di bangku SD, namun jatuh cinta pada olahraga bersepeda ini kurasakan baru mulai tahun 2008 :D) tentu saja aku menyukai tawaran bermain air yang ... well ... cukup memacu adrenalin ini : arung jeram. Maka, tentu saja aku tidak mengabaikan tawaran ini.

Tiga hari sebelum berangkat, setelah aku yakin ada beberapa kursi kosong – karena beberapa rekan kerja menyatakan tidak bisa ikut – aku menawari Angie ikut. Angie yang telah kuperkenalkan pada dunia berenang sejak dia berusia enam tahun tentu dengan suka cita menerima tawaranku ini. Yuhuuu ... berarti ini adalah rafting bersama kita berdua yang kedua kali. Yang pertama, tahun 2016 bersama rekan kerja Angie. Kali ini bersama rekan-rekan kerjaku.

Minggu 26 November 2017

Aku dan Angie telah sampai kantorku yang terletak di Jalan Imam Bonjol sebelum pukul lima pagi. Bus yang kita tumpangi meninggalkan kantor sekitar pukul 05.05, molor 5 menit dari waktu yang telah kita sepakati bersama.


Perjalanan cukup lancar. Kita sampai di lokasi CitraElo pukul 07.20, 40 menit lebih awal ketimbang waktu yang ditentukan oleh pihak penyelenggara. Karena kita datang cukup pagi, kita masih ada waktu untuk menikmati suasana pedesaan di sekitar kita. Gunung nan hijau, air sungai Elo yang mengalir, beserta pepohonan di sekitar. Sungguh asri dan sedap dipandang mata. Berhubung saat itu sedang musim hujan, hawa sungguh sejuk dan segar. Matahari nampak malu-malu bersinar.


Sekitar pukul setengah sembilan kita diberangkatkan ke Blondo, nama daerah dimana kita akan memulai perjalanan arung jeram. Kita diantar kesana dengan mengendarai angkutan umum yang telah disewa oleh CitraElo. Di atas tiap-tiap angkutan yang kita kendarai, pihak penyelenggara meletakkan dua buah boat, dimana di dalam boat itu terletak life jacket yang akan kita kenakan. Dayung diletakkan di dalam kendaraan.

Setelah sampai Blondo, kita dibagi dalam beberapa kelompok. Tiap-tiap kelompok terdiri dari 5 orang, menjadi enam orang bersama sang pemandu rafting. Di kelompokku ada aku, Angie, Nurjannah (NJ), Imam, dan Samsul.


Seperti biasa, sebelum kita diberangkatkan, ada seorang instruktur yang memberi kita arahan hal-hal yang harus kita perhatikan. Sangat penting bagi para newbie, sedangkan bagi mereka yang telah kesekian kali rafting, arahan ini bisa menjadi semacam penyegaran kembali.

Sekitar pukul setengah sepuluh, kita mulai bergerak menuju air. Dalam boat, Samsul dan Imam duduk paling depan. Di baris kedua ada aku dan NJ, Angie duduk di baris ketiga, sendirian. Sang pemandu – pak Gimin namanya kalau aku tidak salah dengar – duduk paling belakang.

Jika tahun lalu aku membawa hape yang kuletakkan dalam wadah plastik yang kukalungkan di leher, kali ini aku sama sekali tidak membawa apa-apa. Baju ganti kutinggal dalam bus, sedangkan hape dan lain-lain kuletakkan dalam tas Angie yang disimpan di satu ruangan yang disediakan oleh CitraElo di base camp mereka.


Seperti biasa, yang membuat perjalanan sepanjang arung jeram exciting dan meriah adalah kehebohan para peserta. LOL. Kebetulan pak Gimin seorang pemandu yang usil, baru beberapa meter kita meninggalkan titik awal, dia sudah mulai mencipratkan air kepada ... kita berlima! Yeay! LOL. Yang membuat Angie, aku, NJ, Samsul dan Imam basah yang pertama kali adalah pak Gimin sendiri! LOL. Setelah itu barulah kita mulai bermain mencipratkan air kepada para peserta lain yang boat-nya ada di sekitar kita.

Dua laki-laki yang duduk di boat yang sama denganku ternyata tidak memiliki daya fight yang tinggi. LOL. Berhubung tidak ada sejenis kompetisi yang nyampai duluan di titik akhir bakal dapat award, mereka berdua mendayung dengan santai, sama sekali tidak terburu-buru. Melihat mereka berdua seperti itu, ya sudahlah, aku dan dua perempuan lain di belakang ikutan nyante. LOL. Kadang ikutan ndayung, kadang membiarkan pak Gimin mendayung sendiri. LOL. (Shhhttt ... jangan ditiru! LOL.)


Btw, ini adalah pengalaman rafting pertama buat seorang NJ. Sejak awal dia nampak tegang, meski sudah kuberitahu bawa sungai Elo sangat ramah buat para newbie. Dia langsung terlihat panik waktu seorang rekan kerja kita – Dewi – yang duduk di boat yang lain terjatuh ke dalam air. Meski Dewi dengan cepat dibantu naik kembali ke boat, NJ nampak tidak jenak.

Kata pak Gimin penyebab seorang rafter terjatuh adalah karena dia tidak konsentrasi penuh. Bahkan lebih parah lagi, mungkin sedang melamun. LOL.

Dewi tidak hanya jatuh sekali. LOL. Kali kedua dia jatuh, kebetulan lokasi dia jatuh dekat dengan boat kita, maka pak Gimin membantunya naik ke boat kita. Jadilah kita bertujuh. Baru beberapa saat Dewi ‘menumpang’ boat kita, eh, dia jatuh lagi. LOL.

Setelah akhirnya Dewi kita kembalikan ke boat dia sendiri, eh, malah Samsul jatuh dengan sendirinya. LOL. Benar kata pak Gimin, karena kita melamun, tidak konsentrasi ke apa yang sedang kita lakukan, bisa membuat kita terjatuh. LOL.

Yang jatuh berikutnya adalah NJ. Kekekekeke ... Dia terjatuh ke air karena ... dia diusilin pak Gimin, dalam kondisi dia melamun! LOL. Namun pak Gimin tidak berhasil mengusiliku maupun Angie. J kita berdua senantiasa alert!  Yeaaaah. LOL.

Seperti biasa, setelah melampaui 6 kilometer kita rafting, kita semua diberi kesempatan beristirahat, dan menikmati air kelapa muda dan beberapa kudapan.

Menjelang pukul 12.00 kita semua sudah sampai di titik akhir, di bawah tempat kita duduk-duduk santai di pagi hari, sebelum kita diberangkatkan ke Blondo. Kita langsung naik, kemudian mandi di tempat-tempat yang telah disediakan. Setelah itu, kita menikmati makan siang, yang merupakan satu paket dengan arung jeram tersebut. Menu makan siang kita adalah sayur lodeh tanpa cabe, ayam bakar, oseng tempe, sambal terasi yang maknyus, dan krupuk.

Sekitar pukul 12.40 kita meninggalkan lokasi CitraElo dengan perasaan lega. Kita bisa menikmati berarung-jeram tanpa diganggu hujan! Oh well, meski kata pak Gimin sih kalau kita rafting pas hujan turun malah jauh lebih asyik. Hmmm ... kapan-kapan lagi deh. LOL.


Dari sana, kita mampir sejenak ke Candi Mendut yang terletak tak jauh. Namun karena hujan turun (akhirnya!) kita tidak lama disini. Sekitar pukul 13.30 kita melanjutkan perjalanan. Karena tak seorang pun menyatakan ingin mampir di satu tempat lain (hujan yang turun telah memadamkan hasrat kita! LOL) akhirnya kita hanya mampir di tempat beli oleh-oleh. Kemudian lanjut pulang ke Semarang.

Sekitar pukul 14.30 kita mengatakan goodbye Magelang! Kapan-kapan tentu aku dan Angie akan kembali lagi! yeay!

LG 15.15 02/12/2017 

Saturday, October 21, 2017

KLARIFIKASI

KLARIFIKASI

Sekali-sekali sok merasa seperti pejabat publik yang punya ‘musuh’ politik gapapa kan ya? :D Setelah lebih dari setahun saya move on, dan ternyata orang-orang yang ada di grup sebelah nampaknya masih berkutat pada issue lama, mungkin saya perlu membuat sedikit klarifikasi. Pakde Jokowi yang biasanya cuek digosipin apa pun oleh orang-orang yang tidak pro dia saja kadang bikin klarifikasi kok. (duh, bandingin diri sendiri dengan Pakde Jowoki, ga tau diri amat. LOL.)

Ini tentang api dalam sekam di antara beberapa (ga ‘banyak’) kawan sepeda di kota Semarang, yang ‘terbagi’ ke dalam beberapa grup. To the point saja yak.

Mengapa saya keluar dari grup B setelah saya sempat masuk ke dalam grup WA mereka selama beberapa bulan?

1.    Saya tidak mau ‘dianggap’ masuk grup sepeda manapun kecuali B2W Semarang dan Komselis, karena no matter what Komselis merupakan bagian yang tak terpisahkan dari B2W Semarang karena orang-orang (awal) yang berinisiatif ‘mendirikan’ adalah orang-orang yang dulu juga terlibat dalam B2W Semarang. Ini adalah preferensi saya sendiri, untuk terlibat dalam grup sepeda yang gerakan moralnya jelas.
a.    B2W Semarang untuk mengkampanyekan hidup sehat dengan meninggalkan kendaraan bermotor dan menggantinya dengan sepeda
b.    Komselis untuk penggunaan sepeda lipat yang diharapkan kian mendorong orang untuk bersepeda ke tempat kerja kala terbentur pada jarak yang dianggap cukup jauh, atau terbentur kontur jalan yang kurang menguntungkan

2.    Ketika saya melihat kemungkinan bahwa grup B menjadi komunitas, saya dengan sadar diri mengundurkan diri. (meski waktu itu dibantah oleh An – atas dasar pernyataan seseorang lain di grup itu — bahwa grup itu tidak akan menjadi komunitas.) Mengapa saya merasa perlu keluar dari grup WA mereka? Karena ternyata sebagian dari mereka nyinyirin saya ketika saya tidak ikut kegiatan yang mereka adakan, misal sepedaan ke pesta duren di Gunung Pati.

Sejak tahun 2011 saya terbiasa dolan berdua dengan soulmate sepedaan saya, terus terang saya kesal ketika dinyinyiri seperti itu. Apalah daya, saya hanya perempuan biasa. LOL. Lha wong ketika Komselis ngadain acara – misal gowes ke area Mangrove Morosari tahun 2015 – saya dan Ranz malah gowes ke Curug Semirang, kawan-kawan Komselis juga ga ada yang nyinyir. LOL.

3.    Saya tidak mau berada di satu grup WA, dimana ada beberapa personil yang suka ngompori orang lain – yang biasanya anggota baru grup – untuk tidak menyukai komunitas yang telah eksis sejak tahun 2009. Bahwa oknum-oknum tertentu menyebarkan gosip, misal, “Eh, si T itu ngeper lho diminta jadi tuan rumah jamselinas!” dan karena caranya sangat santun untuk ngompori orang, orang-orang yang dikompori itu tidak merasa telah dikompori. LOL. Saya tidak mau ikut-ikutan jelek-jelekin komunitas sepeda lipat Semarang (yang pertama berdiri di kota Semarang).
Hey, no matter what, saya ikut ‘membidani’ kelahiran Komselis, ikut menentukan apakah Komselis akan berdiri sendiri atau tetap dianggap merupakan bagian dari B2W Semarang.

Semoga 3 alasan di atas cukup menjawab pertanyaan orang-orang di grup sebelah. Sebenarnya masih buanyak lagi yang mengganjal di hati saya, tapi saya kira ini cukup. Saya baik hati loh agar orang-orang itu tidak terus menerus ghibah tentang saya, juga Ranz, Tami, dan mungkin Dwi. Ketiga alasan di atas murni alasan saya. Saya yakin Ranz, Tami, dan mungkin Dwi, memiliki alasan mereka sendiri mengapa mereka keluar dari grup WA satu setengah tahun yang lalu, Maret 2016.

Demikian. Postingan ini saya tulis tanpa ada paksaan dari pihak mana pun.


LG 09.20 21/09/2017 g

Saturday, August 05, 2017

Choose what and who you want to

taken from here


As a woman who always tries to support other women to choose what kind of life they want to have, I have tried to understand them, whether they ...


  1. choose to live single and be happy
  2. get married and be a (full) housewife
  3. get married and get a job for self-esteem or self-actualization
  4. get married and get a job as a breadwinner while their husbands stay home -- either as a househusband or perhaps run business from home
  5. get divorced after finding out that married life is not as what they imagine (e.g. husband is not reliable or anything
  6. get married after a divorce (with whatever reason the divorce is, and whatever reason the remarriage)
  7. stay married after finding out that their husband cheats on them, with whatever reason they use to stay in the marriage (economy, kids, social status, etc)
  8. choose to have a baby while deciding to stay single
  9. you name it ...
However, I will NEVER accept any woman who flirts a married guy and tries to trap him to leave his wife, or foolishly proposes him to make herself as the second, third, or nth wife of the guy, with whatever reason they have in mind. 

Polygamy, for me, is just celebration of lust by abusing the so-called holy verse of alquran.

Thursday, June 22, 2017

Pertengkaran :)

Beberapa minggu lalu aku sempat ngobrol dengan seorang teman. Dia bilang dia sedang kesal kepada suaminya yang membuat mereka bertengkar berlarut-larut. Aku kaget setelah tahu masalahnya sebenarnya (bagiku) sepele saja: apakah mereka perlu membeli korden jendela yang baru. Temanku bilang dia kepengen beli, mumpung ada korden dengan harga murah. Suaminya bilang, mereka tidak membutuhkan korden baru. Toh mereka merencanakan akan pindah ke tempat lain, kalau mereka mendapatkan tempat lain yang lebih representatif untuk tempat tinggal.

Berhubung sudah beberapa tahun aku menjomblo, sehingga tidak pernah terlibat pertengkaran-pertengkaran ‘sepele’ (namun bisa berakibat ‘besar’) antar suami istri, aku tidak melihat ‘keuntungan’ mengapa temanku dan suaminya harus bertengkar. 

“Why don’t you just listen to him? Toh nanti kalian akan pindah? What’s the point of your being stubborn to buy that curtain?” tanyaku, heran. LOL.

“Nampaknya karena aku pengen ngeyel aja lah. To get his attention, probably.” Jawabnya, ringan. “Aku tahu dia yang benar. Tapi aku pengen beli korden itu, mumpung murah.” Katanya lagi.

Beberapa tahun lalu, seorang teman lain cerita kepadaku betapa dia kesal pada suaminya, karena sesuatu hal. Rasa kesal ini membuatnya enggan berkomunikasi pada suaminya. Dan hal ini merembet ke masalah tempat tidur. Dia enggan bercinta dengan suaminya, dan sok tidak menginginkannya.
Meskipun sekarang aku jomblo, aku pernah punya pengalaman serupa, sehingga aku beri dia saran untuk segera menyelesaikan permasalahan itu, dan tidak membiarkannya berlarut-larut. 

“You two directly talk to each other about it. Be open with each other. Ga usah pakai sok gengsi siapa yang salah siapa yang benar. You had better not challenge yourself, ‘it is okay for me to get divorced.’”
Sok banget toh si Nana ini? LOL.

Waduh ... Nana nggosip. LOL.

Tapi aku yakin masalah yang nampaknya sepele dalam satu hubungan (apalagi dalam pernikahan), jika dibiarkan lama-lama bisa menjadi besar. Tatkala masalah-masalah sepele berakumulasi, suatu saat akan memuncak, dan bisa berakibat sangat fatal.

What’s the point of getting married if not to have a life partner? A soulmate? So, why should get involved in quarrel? Moreover in fight?

PT56 21.35 210609

#repost, tulisan 8 tahun lalu 

J O M B L O

Sebuah tulisan lama, kutulis 8 tahun lalu, copas dari akun facebook :)

Hari Minggu 21 Juni 09 ketika menghadiri acara syukuran khitanan anak seorang teman anggota komunitas b2w Semarang, beberapa teman laki-laki curhat tentang betapa galau mereka saat malam minggu datang dan mereka masih jomblo. (Background: dari kurang lebih 30-50 anggota komunitas yang lumayan aktif beraktifitas bersama, jumlah perempuan yang bergabung masih di bawah 10 orang.) 

“Rasanya malu kalau malam minggu di rumah saja, ketahuan belum punya pacar.” Kata seseorang. Itu sebabnya dia akan pergi dari rumah tatkala malam minggu tiba, tidak penting dia akan menghabiskan malam minggunya dimana. 

Jadi ingat malam minggu sebelumnya, tatkala kumpul-kumpul dengan teman dari komunitas yang sama, b2w Semarang, seorang teman laki-laki bilang, “Ayo to Jeng, aku dicariin pacar. Murid-muridmu tentu ada kan yang ‘melek’? Kasihan malam minggu gini aku seorang diri saja.”

Belum pernah aku menyadari bahwa kesendirian bisa menjadi begitu hal yang menyedihkan, sekaligus memalukan bagi orang-orang tertentu. LOL. Atau mungkin aku sudah lupa karena tahun-tahun terakhir ini aku dengan bangga mengakui menjadi anggota ‘single and happy’ community. LOL. Kalau pun toh duuuuluuuuu aku pernah mengalami rasa ‘kok aku ga laku ya?’ (LOL), tapi seingatku aku ga sampai merasa suatu hal yang memalukan malam minggu kok di rumah saja, ga ada yang ngapelin. (Maklum, aku perempuan, tinggal di kultur dimana perempuan biasanya ‘diapeli’ dan bukannya pihak yang ‘ngapeli’.)

Hal ini mengingatkanku kasus Cici Faramida yang dianiaya oleh suaminya. Pertanyaan pertama yang langsung muncul dari benakku tatkala mendengar kasus ini adalah, “Why the hell did she marry that jerk?” 

Mengapa menikah? Mengapa harus merasa bahwa orang yang menikah lebih bahagia daripada orang yang tidak (atau belum) menikah? (I have many articles on this in my blog athttp://afeministblog.blogspot.com under tag ‘marriage’.)

Mengapa harus punya pacar? Mengapa harus merasa nelangsa tatkala tidak punya pacar?

“What have you done so far to get a boyfriend?” tanya seseorang padaku beberapa bulan lalu.
“Should I really do something serious to get one?” tanyaku balik.

“Well, do you think you will get a boyfriend without ‘struggling’?” tanyanya lagi.

“I am okay. Why should you trouble yourself to ask me such a thing?” aku sebenarnya ingin mengatakan, “Mind your own business!” tapi Nana adalah seseorang yang sangat sweet (LOL) untuk mengatakan hal seperti itu. LOL.

“You are lonely, aren’t you?” tuduhnya.

Iki piye to ki? LOL. Sing ngrasakke sopo jal? LOL.

Well, anyway, he is just a guy I found on net. It is very easy to discard him from my list. So, aku tidak perlu memasukkan kata-katanya dalam hati.

Another related case. 

Beberapa minggu lalu seorang sepupu (perempuan) jauh datang ke Semarang. Aku lupa kita sedang ngobrol apa, tahu-tahu dia bilang, “Kalau mbak Nana tinggal di Gorontalo, tentu mbak Nana sudah menikah lagi.”

I was really dumbfounded sehingga aku hanya bengong saja dan tidak berkomentar apa-apa.
Tak lama kemudian, suami sepupu (yang juga sepupuku) ini mengirim email kepadaku, bertanya apa rencanaku ke depan to get a hubby-to-be. Kalau perlu mungkin aku sebaiknya berkunjung ke Gorontalo. (Mungkin ada banyak cousin Podungge yang masih single? LOL.)

What a ridiculous thing. 

Tatkala aku bilang, “I have no idea yet about getting married again.” dia berkomentar, “You are a good woman.” 

(HELLO EVERYONE OUT THERE!!! CAN YOU EXPLAIN IT TO ME, PLEASE??? Apa hubungan antara belum punya rencana menikah lagi dengan being a good woman?

Jadi ingat omongan usil Wakasek Angie beberapa bulan lalu, waktu aku terpaksa menemuinya karena suatu kasus. Sang Wakasek yang rese ini bertanya, “Ga ada rencana menikah lagi Bu?”

“Belum.” Jawabku. 

Ekspresi wajahnya kaget. “Belum atau tidak?” tanyanya, meyakinkan telinganya barangkali. LOL.
“Belum.” Jawabku lagi.

“Oh, sebaiknya Ibu menjawab tidak, toh sudah punya anak. Sebaiknya Ibu berkonsentrasi membesarkan anak saja. Tapi kalau memang Ibu berencana menikah lagi, ya saya doakan semoga mendapatkan suami yang baik.”

R-E-S-E!!!

See? Betapa kontradiktif apa yang dikatakan oleh sepupuku dan Wakasek yang super rese itu.

Kembali ke percakapan teman-teman b2w Semarang.

Aku belum menemukan jawaban mengapa seseorang harus merasa nelangsa dan malu tatkala belum punya pacar. 

Mengapa seseorang harus merasa nelangsa dan malu tatkala dia belum (atau tidak) menikah. Apalagi hal ini diakui oleh kaum laki-laki, yang menurutku, seharusnya tidak begitu ‘peduli’ pada kejombloan, mengingat di ‘marriage-oriented society’ tempat kita tinggal ini, yang biasanya sangat merasa merana kalau belum menikah itu biasanya perempuan. (For one example, you can click this http://afeministblog.blogspot.com/2006/05/marriage-oriented-society.html
Anybody can help me? 
PT56 21.13 210609

Monday, June 19, 2017

Gowes Mudik

Sebagai seseorang yang lahir dan besar di Semarang, meski orangtua asli Gorontalo, aku "mengalami" mudik hanya ketika kuliah di Jogja. Mudik ke Semarang dari Jogja. Usai kuliah, tak lagi lah aku mengenal kata 'mudik'.

(Cek tulisan lamaku tentang mudik disini.)

Beberapa hari terakhir ini, sosial mediaku sedang heboh dengan postingan #gowesmudik. Beberapa kawan sepeda yang tinggal di kawasan Jakarta mudik ke daerah masing-masing dengan bersepeda. Berhubung aku tak (lagi) mengenal istilah mudik, tentu aku ga perlu 'ngiri' untuk melakukan hal yang sama. :) Tapiiiii ... musim Lebaran akan selalu mengingatkanku pada kisah bikepacking pasca lebaran di tahun 2012, dimana aku dan Ranz bersepeda dari Semarang menuju Tuban. (Eh, Ranz juga gowes dari Solo ke Semarang sehari sebelum kita berangkat menyusuri pantura bersama.) Cek tulisanku disini dan juga disini. :)



Padahal, aku dan Ranz gowes pasca lebaran tidak hanya di tahun 2012 lho. Kita juga melakukannya di tahun 2011 (bersepeda dari Solo ke pantai Nampu - Wonogiri). Di tahun 2013 kita bersepeda dari Solo ke pantai Klayar - Pacitan. Kedua kisah ini kita lakukan beberapa hari setelah lebaran. Tahun 2014 kita ke Blitar dan Malang di bulan Ramadhan. Tahun 2015 kita mbolang ke Bali dan Lombok juga di bulan Ramadhan. Tahun 2016 kita mbolang bareng 4 perempuan lain, dimana kemudian kita menyebut diri sebagai Semarang Velo Girls. Kita hanya ke Jogja waktu itu.

Lalu, apa istimewanya gowes sepanjang pantura Semarang - Tuban itu? Mengapa jika melihat posko mudik bertebaran, aku langsung terkenang perjalanan menuju Tuban? Jawabannya ternyata simpel saja! Sepanjang pantura memang posko mudik bertebaran dimana-mana, sangat mudah bagi kita mendapatkannya. Sedangkan dalam perjalanan dari Solo ke Wonogiri maupun dari Solo ke Pacitan, posko mudik yang disediakan masyarakat setempat sangatlah terbatas.

Nampaknya, jika aku ingin merasakan sensasi #gowesmudik, (pastinya beda dong dengan hanya sekedar gowes dari satu kota ke kota lain?) aku harus kembali ke bangku kuliah, minimal balik ke Jogja lagi. Atau ... pindah ke kota lain? LOL.

IB180 20.30 19/06/2017