Thursday, June 22, 2017

Pertengkaran :)

Beberapa minggu lalu aku sempat ngobrol dengan seorang teman. Dia bilang dia sedang kesal kepada suaminya yang membuat mereka bertengkar berlarut-larut. Aku kaget setelah tahu masalahnya sebenarnya (bagiku) sepele saja: apakah mereka perlu membeli korden jendela yang baru. Temanku bilang dia kepengen beli, mumpung ada korden dengan harga murah. Suaminya bilang, mereka tidak membutuhkan korden baru. Toh mereka merencanakan akan pindah ke tempat lain, kalau mereka mendapatkan tempat lain yang lebih representatif untuk tempat tinggal.

Berhubung sudah beberapa tahun aku menjomblo, sehingga tidak pernah terlibat pertengkaran-pertengkaran ‘sepele’ (namun bisa berakibat ‘besar’) antar suami istri, aku tidak melihat ‘keuntungan’ mengapa temanku dan suaminya harus bertengkar. 

“Why don’t you just listen to him? Toh nanti kalian akan pindah? What’s the point of your being stubborn to buy that curtain?” tanyaku, heran. LOL.

“Nampaknya karena aku pengen ngeyel aja lah. To get his attention, probably.” Jawabnya, ringan. “Aku tahu dia yang benar. Tapi aku pengen beli korden itu, mumpung murah.” Katanya lagi.

Beberapa tahun lalu, seorang teman lain cerita kepadaku betapa dia kesal pada suaminya, karena sesuatu hal. Rasa kesal ini membuatnya enggan berkomunikasi pada suaminya. Dan hal ini merembet ke masalah tempat tidur. Dia enggan bercinta dengan suaminya, dan sok tidak menginginkannya.
Meskipun sekarang aku jomblo, aku pernah punya pengalaman serupa, sehingga aku beri dia saran untuk segera menyelesaikan permasalahan itu, dan tidak membiarkannya berlarut-larut. 

“You two directly talk to each other about it. Be open with each other. Ga usah pakai sok gengsi siapa yang salah siapa yang benar. You had better not challenge yourself, ‘it is okay for me to get divorced.’”
Sok banget toh si Nana ini? LOL.

Waduh ... Nana nggosip. LOL.

Tapi aku yakin masalah yang nampaknya sepele dalam satu hubungan (apalagi dalam pernikahan), jika dibiarkan lama-lama bisa menjadi besar. Tatkala masalah-masalah sepele berakumulasi, suatu saat akan memuncak, dan bisa berakibat sangat fatal.

What’s the point of getting married if not to have a life partner? A soulmate? So, why should get involved in quarrel? Moreover in fight?

PT56 21.35 210609

#repost, tulisan 8 tahun lalu 

J O M B L O

Sebuah tulisan lama, kutulis 8 tahun lalu, copas dari akun facebook :)

Hari Minggu 21 Juni 09 ketika menghadiri acara syukuran khitanan anak seorang teman anggota komunitas b2w Semarang, beberapa teman laki-laki curhat tentang betapa galau mereka saat malam minggu datang dan mereka masih jomblo. (Background: dari kurang lebih 30-50 anggota komunitas yang lumayan aktif beraktifitas bersama, jumlah perempuan yang bergabung masih di bawah 10 orang.) 

“Rasanya malu kalau malam minggu di rumah saja, ketahuan belum punya pacar.” Kata seseorang. Itu sebabnya dia akan pergi dari rumah tatkala malam minggu tiba, tidak penting dia akan menghabiskan malam minggunya dimana. 

Jadi ingat malam minggu sebelumnya, tatkala kumpul-kumpul dengan teman dari komunitas yang sama, b2w Semarang, seorang teman laki-laki bilang, “Ayo to Jeng, aku dicariin pacar. Murid-muridmu tentu ada kan yang ‘melek’? Kasihan malam minggu gini aku seorang diri saja.”

Belum pernah aku menyadari bahwa kesendirian bisa menjadi begitu hal yang menyedihkan, sekaligus memalukan bagi orang-orang tertentu. LOL. Atau mungkin aku sudah lupa karena tahun-tahun terakhir ini aku dengan bangga mengakui menjadi anggota ‘single and happy’ community. LOL. Kalau pun toh duuuuluuuuu aku pernah mengalami rasa ‘kok aku ga laku ya?’ (LOL), tapi seingatku aku ga sampai merasa suatu hal yang memalukan malam minggu kok di rumah saja, ga ada yang ngapelin. (Maklum, aku perempuan, tinggal di kultur dimana perempuan biasanya ‘diapeli’ dan bukannya pihak yang ‘ngapeli’.)

Hal ini mengingatkanku kasus Cici Faramida yang dianiaya oleh suaminya. Pertanyaan pertama yang langsung muncul dari benakku tatkala mendengar kasus ini adalah, “Why the hell did she marry that jerk?” 

Mengapa menikah? Mengapa harus merasa bahwa orang yang menikah lebih bahagia daripada orang yang tidak (atau belum) menikah? (I have many articles on this in my blog athttp://afeministblog.blogspot.com under tag ‘marriage’.)

Mengapa harus punya pacar? Mengapa harus merasa nelangsa tatkala tidak punya pacar?

“What have you done so far to get a boyfriend?” tanya seseorang padaku beberapa bulan lalu.
“Should I really do something serious to get one?” tanyaku balik.

“Well, do you think you will get a boyfriend without ‘struggling’?” tanyanya lagi.

“I am okay. Why should you trouble yourself to ask me such a thing?” aku sebenarnya ingin mengatakan, “Mind your own business!” tapi Nana adalah seseorang yang sangat sweet (LOL) untuk mengatakan hal seperti itu. LOL.

“You are lonely, aren’t you?” tuduhnya.

Iki piye to ki? LOL. Sing ngrasakke sopo jal? LOL.

Well, anyway, he is just a guy I found on net. It is very easy to discard him from my list. So, aku tidak perlu memasukkan kata-katanya dalam hati.

Another related case. 

Beberapa minggu lalu seorang sepupu (perempuan) jauh datang ke Semarang. Aku lupa kita sedang ngobrol apa, tahu-tahu dia bilang, “Kalau mbak Nana tinggal di Gorontalo, tentu mbak Nana sudah menikah lagi.”

I was really dumbfounded sehingga aku hanya bengong saja dan tidak berkomentar apa-apa.
Tak lama kemudian, suami sepupu (yang juga sepupuku) ini mengirim email kepadaku, bertanya apa rencanaku ke depan to get a hubby-to-be. Kalau perlu mungkin aku sebaiknya berkunjung ke Gorontalo. (Mungkin ada banyak cousin Podungge yang masih single? LOL.)

What a ridiculous thing. 

Tatkala aku bilang, “I have no idea yet about getting married again.” dia berkomentar, “You are a good woman.” 

(HELLO EVERYONE OUT THERE!!! CAN YOU EXPLAIN IT TO ME, PLEASE??? Apa hubungan antara belum punya rencana menikah lagi dengan being a good woman?

Jadi ingat omongan usil Wakasek Angie beberapa bulan lalu, waktu aku terpaksa menemuinya karena suatu kasus. Sang Wakasek yang rese ini bertanya, “Ga ada rencana menikah lagi Bu?”

“Belum.” Jawabku. 

Ekspresi wajahnya kaget. “Belum atau tidak?” tanyanya, meyakinkan telinganya barangkali. LOL.
“Belum.” Jawabku lagi.

“Oh, sebaiknya Ibu menjawab tidak, toh sudah punya anak. Sebaiknya Ibu berkonsentrasi membesarkan anak saja. Tapi kalau memang Ibu berencana menikah lagi, ya saya doakan semoga mendapatkan suami yang baik.”

R-E-S-E!!!

See? Betapa kontradiktif apa yang dikatakan oleh sepupuku dan Wakasek yang super rese itu.

Kembali ke percakapan teman-teman b2w Semarang.

Aku belum menemukan jawaban mengapa seseorang harus merasa nelangsa dan malu tatkala belum punya pacar. 

Mengapa seseorang harus merasa nelangsa dan malu tatkala dia belum (atau tidak) menikah. Apalagi hal ini diakui oleh kaum laki-laki, yang menurutku, seharusnya tidak begitu ‘peduli’ pada kejombloan, mengingat di ‘marriage-oriented society’ tempat kita tinggal ini, yang biasanya sangat merasa merana kalau belum menikah itu biasanya perempuan. (For one example, you can click this http://afeministblog.blogspot.com/2006/05/marriage-oriented-society.html
Anybody can help me? 
PT56 21.13 210609

Monday, June 19, 2017

Gowes Mudik

Sebagai seseorang yang lahir dan besar di Semarang, meski orangtua asli Gorontalo, aku "mengalami" mudik hanya ketika kuliah di Jogja. Mudik ke Semarang dari Jogja. Usai kuliah, tak lagi lah aku mengenal kata 'mudik'.

(Cek tulisan lamaku tentang mudik disini.)

Beberapa hari terakhir ini, sosial mediaku sedang heboh dengan postingan #gowesmudik. Beberapa kawan sepeda yang tinggal di kawasan Jakarta mudik ke daerah masing-masing dengan bersepeda. Berhubung aku tak (lagi) mengenal istilah mudik, tentu aku ga perlu 'ngiri' untuk melakukan hal yang sama. :) Tapiiiii ... musim Lebaran akan selalu mengingatkanku pada kisah bikepacking pasca lebaran di tahun 2012, dimana aku dan Ranz bersepeda dari Semarang menuju Tuban. (Eh, Ranz juga gowes dari Solo ke Semarang sehari sebelum kita berangkat menyusuri pantura bersama.) Cek tulisanku disini dan juga disini. :)



Padahal, aku dan Ranz gowes pasca lebaran tidak hanya di tahun 2012 lho. Kita juga melakukannya di tahun 2011 (bersepeda dari Solo ke pantai Nampu - Wonogiri). Di tahun 2013 kita bersepeda dari Solo ke pantai Klayar - Pacitan. Kedua kisah ini kita lakukan beberapa hari setelah lebaran. Tahun 2014 kita ke Blitar dan Malang di bulan Ramadhan. Tahun 2015 kita mbolang ke Bali dan Lombok juga di bulan Ramadhan. Tahun 2016 kita mbolang bareng 4 perempuan lain, dimana kemudian kita menyebut diri sebagai Semarang Velo Girls. Kita hanya ke Jogja waktu itu.

Lalu, apa istimewanya gowes sepanjang pantura Semarang - Tuban itu? Mengapa jika melihat posko mudik bertebaran, aku langsung terkenang perjalanan menuju Tuban? Jawabannya ternyata simpel saja! Sepanjang pantura memang posko mudik bertebaran dimana-mana, sangat mudah bagi kita mendapatkannya. Sedangkan dalam perjalanan dari Solo ke Wonogiri maupun dari Solo ke Pacitan, posko mudik yang disediakan masyarakat setempat sangatlah terbatas.

Nampaknya, jika aku ingin merasakan sensasi #gowesmudik, (pastinya beda dong dengan hanya sekedar gowes dari satu kota ke kota lain?) aku harus kembali ke bangku kuliah, minimal balik ke Jogja lagi. Atau ... pindah ke kota lain? LOL.

IB180 20.30 19/06/2017

Naif

pic diambil dari sini

Duluuuuuu ... aku pernah berpikir bahwa seorang perempuan yang telah menikah tak akan lagi mampu menarik perhatian laki-laki lain. J Pandangan ini mendadak dimentahkan oleh seseorang – yang pada waktu itu usianya di bawahku lebih dari 10 tahun – yang kutemui di dunia maya, lebih dari 10 tahun yang lalu.

Cerita lengkapnya begini. J

Aku yang sedang jenuh mengerjakan tesis “akhirnya” kembali ke dunia perchattingan dunia maya untuk sekedar hiburan di tengah-tengah browsing materi untuk tesis. Kala itu situs ‘mIRC’ masih sangat eksis. (Aku belum pakai Yahoo Messenger.) Untuk mendapatkan “chat partner” yang seusia, (agar ngobrolnya enak, ga terhalang gap usia) aku sengaja memilih nick yang menunjukkan usiaku, yaitu “fe36smg”, yang sekaligus menjawab pertanyaan klise yang biasanya keluar di awal chatting, yaitu “a s l” a.k.a “age sex location”: I am a female, 36 years old, from Semarang. Di luar ekspektasiku, ternyata yang tertarik menyapaku lebih banyak laki-laki yang usianya jauh di bawahku, let’s say 10 tahun.

Dari sekian banyak “chat partner” yang kudapatkan, tentu ada beberapa yang asyik diajak ngobrol. Tapi, yang akan kutulis disini, yang membuatku sadar betapa naifnya diriku, LOL, hanya satu.

Waktu itu dia adalah seorang mahasiswa satu perguruan tinggi di Semarang. Ketika kutanya apa yang membuatnya tertarik mengajakku ngobrol – dia masih di awal usia duapuluhan – karena aku jauh lebih tua darinya, dia menjawab, “perempuan seusiamu itu justru sangat menarik bagi laki-laki sebayaku. Laki-laki seusiaku sangat tertarik pada seks. Kalau pun kita punya pacar, kita ga berani lah mengajak pacar kita berhubungan seks. Jika dia hamil, berabe kita karena tentu kita akan diminta menikahinya, padahal secara finansial kita belum siap. Secara psikologis juga belum. Pacar yang kita punyai – yang mungkin usianya tak jauh dari kita, mungkin lebih muda – hanya untuk sekedar status sosial. Kita punya pacar. Tapi kita ga akan tega mengajaknya bercinta.”

Aku bengong. LOL.

Lebih bengong lagi mendengar penjelasannya berikut.

“Lain halnya jika laki-laki seusiaku memiliki kawan dekat perempuan seusiamu, yang sudah menikah. Perempuan yang sudah menikah adalah ‘partner’ yang sangat aman buat kita. Pertama, dia sudah pengalaman sehingga kita justru bisa belajar “how to behave and what to do in bed.” (ih wow!) Kedua, karena sudah menikah, ga mungkin lah dia meminta kita ‘bertanggungjawab’ untuk menikahinya (setelah ngeseks dengannya). Ketiga, mungkin kita tidak perlu mengeluarkan uang waktu kencan.”

Everything he said made sense, didn’t it? :D

Maka sejak itu aku pun berubah cara pandang. LOL.

Aku berpikir tentu banyak laki-laki – sebrengsek apa pun – akan mempertahankan perkawinannya, sehingga ketika mereka mendapati kejenuhan dalam perkawinan, mereka akan mencari “perempuan yang aman” untuk diajak kencan, yakni istri orang. Seorang kawan dunia mayaku saat ini suka menggunakan istilah “binor” alias “bini orang”. Hanya sekedar untuk mengurangi kejenuhan, bukan untuk mencari masalah yang lebih besar, misal pertengkaran dengan istri yang mungkin akan berujung ke perceraian. Binor adalah solusi tepat. LOL. Satu syarat utama tentu adalah si perempuan ini pun tetap ingin menjaga perkawinannya, bukan malah ingin menceraikan suaminya untuk kemudian menuntut pacarnya menceraikan istrinya, agar mereka “bersatu”. Meski, well, harus dipahami tentu ada juga tipe laki-laki dan perempuan yang seperti ini.

Beberapa tahun yang lalu, aku dengar beberapa kawan (laki-laki) memiliki ‘hobi’ mengajak kencan perempuan lain, namun tetap berusaha menjaga image bahwa mereka adalah suami yang setia. Atau mungkin, tipe laki-laki yang berpikir bahwa laki-laki itu milik istri “hanya” ketika di rumah, namun menjadi milik umum, begitu keluar rumah. Dan, sialnya (atau ‘kebetulan’ ya?) mereka memiliki istri yang mengamini adagium ini.

Nah, agar perkawinan mereka tetap awet, kupikir perempuan yang mereka ajak kencan harusnya binor dong ya? Agar si perempuan tidak ‘menuntut’ si laki-laki untuk menikahinya, dengan menyalahgunakan, eh, memanfaatkan tafsir surat annisa ayat 3 bahwa laki-laki boleh menikahi perempuan yang mereka sukai, dua, tiga, empat ...

Sekian hari lalu, baru saja mendengar cerita (yang telah basi) bahwa sekian tahun lalu salah satu kawan laki-laki yang kukisahkan di paragraf di atas pernah mencoba mengajak kencan seorang perempuan yang masih single, namun ditolak. Laki-laki yang dikenal santun ini (lihat di postinganku yang tentang monster berbusana malaikat) memang pernah berhasil menggaet perempuan (yang waktu itu masih single) dan si perempuan diberi hadiah sebuah sepeda lipat. Aku melihatnya sebagai “mutual relationship”, si laki-laki menginginkan sesuatu dari si perempuan, si perempuan mendapatkan sesuatu dari si laki-laki. Laksana hubungan jual beli. Namun, tentu tidak semua perempuan seperti itu lah. (seperti juga tidak semua laki-laki santun bak malaikat namun berhati monster gila perempuan.) Mengapa dia tidak mengencani binor saja yak demi keutuhan rumah tangganya?

Mendadak aku ingat satu laki-laki lain, yang pernah mampir dalam hidupku sekitar 8 tahun yang lalu. Dia bilang, “laki-laki seusiaku (akhir duapuluhan – red) sangat tertarik pada perempuan matang seusia 40-45 tahun Na. Mereka nampak sangat menarik dan seksi karena kematangannya. Tapi, mungkin nanti ketika aku berusia di atas 40 tahun, aku akan tertarik pada perempuan yang jauh lebih muda. Entahlah.”

Dan nampaknya terkadang aku masih saja NAIF. Hahahahah ...


LG 10.30 19062017

Saturday, June 17, 2017

Hello Yahoo!

Bagi yang sudah mengenal dunia internet sejak (akhir) dekade sembilanpuluhan, tentu tahulah bahwa pada zaman itu yahoo.com adalah search engine raksasa. Google sudah ada -- seingatku -- tapi masih bisa dianggap bayi lah, belum ada apa-apanya. Meski email pertama yang kupunyai tidak berdomain di yahoo.com akhirnya satu kali aku punya juga email di yahoo.com yang saat itu memang spektakuler.

Jadi, 'fasilitas' a.k.a widget -- atau apa pun namanya lah -- di yahoo.com yang pernah kunikmati?

Well, selain email gratis, satu fasilitas lain yang banyak dinikmati orang pada zaman itu adalah YM! alias Yahoo Messenger. Namun satu yang paling kusukai pada waktu itu adalah web 360-nya, serupa fasilitas blog, tatkala aku mulai suka (dan pede) menulis di tempat publik. Entah mengapa aku lebih suka posting tulisan di web 360 waktu itu ketimbang di web lain, bahkan termasuk blogger atau blogspot. Dengan posting tulisan di web 360, orang-orang yang terdaftar dalam "friendlist"ku di YM! akan mendapatkan notifnya, sehingga mereka mungkin akan membacanya. Beberapa kali aku mendapatkan respons dari tulisan yang kuaplot di web 360, dan menjalin diskusi dengan beberapa orang.

gambar diunduh dari sini

Aku lupa kapan web 360 akhirnya ditiadakan oleh yahoo. Mungkin tidak laku lagi. Entah. Aku sempat gelagapan ingin mencoba menyelamatkan tulisan-tulisan yang kuaplot disana ke blog (lain), tapi nampaknya karena akses internet masih bisa dianggap mahal saat itu, aku ga ingat apakah aku sempat melakukannya.

Selain YM, web 360, tentu tak ketinggalan pula adalah keberadaan mailing list yang diadakan oleh yahoo. Di tahun-tahun 2006 - 2012 aku cukup aktif di milis-milis yang kuikuti. Dari milis-milis itu aku mendapatkan kenalan, teman, dan sahabat, selain tentu saja pengetahuan yang bermanfaat (dan membantu membentukku menjadi Nana yang sekarang).

Yahoo Messenger sudah down, tak lagi laku, menyusul web 360. Beberapa hari lalu (Juni 2017) perusahaan yahoo sudah dibeli pihak lain. Well, untuk sementara ini email yahoo masih berlaku. Akankah hilang juga dari peredaran satu saat nanti?

(email pertamaku di eudoramail.com sudah hilang sekian tahun lalu. eudoramail.com sempat berganti ke lycos.com namun kemudian ilang juga.)

Hmmm ... nothing really lasts forever?

Bagaimana dengan blog nantinya ya? Will they be gone? Lalu, tulisan-tulisanku yang 'kuabadikan' di blog akan juga menghilang? Seperti buku-buku di rak bukuku yang dimakan rayap? :(

IB180 17062017


Monday, June 12, 2017

Relijiusitas semu

Jika tidak salah ingat, pertama kali aku "berani" makan di tempat terbuka di bulan Ramadhan di awal-awal dekade sembilanpuluhan, di Jogja. Entah apa yang membuatku menerima ajakan seorang kawan kos waktu itu untuk ikut makan dengannya di satu lapak terbuka di kawasan kampus UGM. Temanku yang satu ini mungkin sudah biasa melakukannya, sehingga dia nampak 'biasa' saja. (Maksudku tidak merasa rikuh atau grogi di bulan puasa makan di tempat terbuka.) Aku? Tentu saja merasa sangat amat bersalah dan (sedikit) tidak nyaman, meski aku sendiri waktu itu sedang mendapatkan 'izin' untuk tidak berpuasa.

foto diambil dari link ini

Jangankan makan di tempat umum, makan di rumah bagi seorang perempuan yang sedang menstruasi pun di bulan puasa harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Di dekade itu, kadar relijiusitas rakyat Indonesia bisa dikatakan belum begitu terasa. Belum banyak perempuan mengenakan jilbab. (Kata seorang kawan facebook, entah berdasarkan riset 'betulan' atau hanya sekedar melihat masyarakat, di dekade itu, dari sekitar 50 perempuan ketika berkumpul, ada 1 orang yang berjilbab, sekarang bisa jadi dari 50 perempuan, hanya ada 5 perempuan yang tidak mengenakan jilbab.) Belum ada ormas Islam yang merasa berhak untuk melakukan 'sweeping' warung-warung makan yang buka di siang hari. Belum ada 'peer pressure' di satu komunitas dimana sekelompok orang merasa punya hak untuk melakukan pemaksaan individu-individu yang ... misalnya ... tidak berjilbab.

Meskipun begitu, tak begitu banyak kulihat orang-orang yang makan maupun minum di tempat umum di bulan Ramadhan. Juga tak banyak warung makan yang buka, apalagi lapak-lapak (makanan) di pinggir jalan.

satu angkringan di Gombong

Beberapa hari lalu, aku mampir di satu warung bakso untuk makan siang. Disitu kulihat ada 5 perempuan yang sedang makan. Tiga orang mengenakan baju yang sama, mungkin seragam kantor. Dua dari 3 perempuan ini berjilbab. Dua perempuan lain -- nampak seperti ibu dan anak -- sang ibu mengenakan jilbab syar'i alias jilbab panjang dan lebar hingga menutupi bagian pantat.

Hal ini membuatku berpikir, ketika kecil dulu, 'brainwashing' bahwa makan di siang hari di tempat umum di bulan puasa itu sangat tidak etis dan memalukan sangat kuat, sehingga rasanya aku malu sekali jika melakukannya. Waktu itu rakyat Indonesia belum 'terlihat' serelijius sekarang. Sekarang, bahkan orang-orang yang jelas-jelas mengenakan 'atribut' keagamaan melakukannya tanpa merasa 'pekewuh' ya? Padahal banyak orang menggembar-gemborkan relijiusitas.

Relijiusitas semu? Hanya di permukaan?

IB180 20.22 12062017

Saturday, June 10, 2017

Monster berbalut Malaikat

Seberapa sering kita "tertipu" penampilan luar seseorang?

Ini adalah kisah seorang kawan. Dengan beberapa kawannya yang lain. Di lingkungan perkawanan yang sama denganku. :)

Ada seseorang yang nampak begitu santun, baik, murah hati, dan suka menolong. Maka kawan-kawan pun memujanya bak malaikat. Hingga satu kali -- satu per satu -- kawan-kawanku ditusuknya dari belakang. Terkadang, menusuknya sambil meminjam pisau seorang kawan lain, sehingga tak ada yang sadar bahwa si santun inilah yang menusuk. Hanya orang-orang tertentu yang kemudian menyadari bahwa si murah hati ini ternyata selalu memiliki "udang di balik bakwan" di tiap kebaikhatiannya memberi barang ke orang lain.

Yang lain? Tetap saja memandang sang monster ini sebagai malaikat. Hmffttt ...

Yang berikut ini, aku copas dari komen seorang kawan di facebook.

Copas komen seseorang di postingan Mbak RaniJane : Monster sejati justru memang seperti malaikat penampakan fisiknya
Rani : Ya sih, aku mengalaminya berkali-kali dalam hidup. Meski sudah kulihat sebagai monster, orang-orang ternyata masih melihatnya sebagai malaikat ..
#selfreminder #selfnote