Wednesday, March 07, 2012

Narsisku Bahagiamu

"Narsisku Bahagiamu" adalah judul lomba yang diadakan di lapak sebelah, tepatnya di www.multiply.com Dari judulnya saja tentu para pembaca bisa dengan mudah 'menerjemahkannya sebagai 'narsis yang kulakukan akan membawa kebahagiaan untukmu".

Nah, jenis lomba seperti apa itu yak? :)

 
Mas Daryono dan aku yang sok pura-pura jadi penjual

Alkisah lomba ini bermula dari seorang mper yang hobby jajan di pinggir jalan, semasa masih remaja. Dan dia tahu banget bahwa para penjual di pinggir jalan ini termasuk para pedagang dengan modal yang 'secukupnya'. Nah, dalam rangka ingin memberikan bantuan kepada mereka, namun tetap memupuk 'penyakit' (atau hobi ya? :-P) bernarsis ria, maka diselenggarakanlah lomba dengan judul 'narsisku bahagiamu' ini.

Cara bermainnya begini. Para peserta diminta untuk mewawancara para pedagang kecil -- boleh berdagang 'sesuatu' misal makanan, atau penyedia jasa, misal para 'odong-odonger', hihihihi -- menuliskan kisah kehidupan mereka bagaimana mereka 'fight' dalam kehidupan mereka sehari-hari, bagaimana kisah mereka menginspirasi orang lain untuk terus survive. SYARAT UTAMA yang butuh nyali adalah para peserta juga diminta untuk berfoto a la para pedagang tersebut (bergaya seperti para pedagang tersebut, kalau perlu mengenakan pakaian yang mirip yang biasa mereka lakukan ketika menunaikan tugas), narsis habis pokoknya. :-D => ini penjabaran dari kata 'narsisku'

Lha 'bahagiamu' gimana dong?

Nah, dari sekian peserta, akan dipilih tiga juara utama. Juara 1 mendapatkan uang tunai satu juta rupiah; juara 2 enam ratus ribu rupiah; dan juara 3 empat ratus rupiah. Dari jumlah uang tunai itu, masing-masing harus dibagi dua untuk si peserta lomba dan pedagang yang diwawancarai.

ISN'T IT VERY SWEET?

Begitulah. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang suka men-challenge diri untuk ikut lomba-lomba ini itu (meski setahun lalu aku juga ikut lomba di lapak sebelah menulis love letter dalam rangka menyambut valentine's day), namun lomba yang satu ini memang benar-benar menantang dan membantu para pedagang kecil.

Maka, begitulah. Aku ikut lomba itu. Karena di Semarang aku tidak tahu banyak tempat jajan di pinggir jalan, aku menyambut ide Ranz untuk wawancara seorang pedagang langganannya: Mas Daryono yang biasa berjualan kue lekker di depan gedung SMP N 1 Solo. (Syarat utama, pedagang tidak memiliki tempat permanen yang berbentuk rumah atau warung.) Plus, Ranz kan punya kamera dan bisa 'kumanfaatkan' untuk menemaniku wawancara plus menjepret 'aksi-aksiku'. Hihihihi ... Kesempatan itu kudapatkan ketika aku dolan ke Solo bulan Desember 2011 lalu.

Ketika membaca beberapa tulisan peserta lain, aku tahu kisah kehidupan MD 'biasa-biasa' saja, dan tidak terlalu menginspirasi. Bandingkan dengan Mbah Suripah penjual Jamu Jun yang diwawancarai Bambang Priantono, usia beliau sudah cukup 'sepuh' namun tetap semangat dan tekun berjualan jamu jun -- jamu khas wong Semarang -- untuk survive tanpa mengandalkan bantuan dari anak-anaknya yang dia tahu bahwa anak-anaknya pun hidup dalam taraf pas-pasan, demikian juga suaminya. Tidak heran jika tulisan Nono dipiih sebagai juara pertama.

Meski tidak menjadi salah satu pemenang, aku sangat senang mengikuti lomba ini. Apalagi karena ada hadiah hiburan (yang mengejutkan) kepada semua pedagang yang diwawancara, yakni uang tunai sejumlah Rp. 200.000,00 untuk masing-masing orang. Aku bisa bayangin tentu nantinya Mas Daryono bakal kaget dan senang menerima hadiah itu. (Tentu harus ada 'bukti' berupa jepretan-jepretan foto. Narsis lagiiiiiiii!!! Asiiikkk :-P)

PT28 18.38 060312

P.S.:
hey hey ... join us at multiply :)

Klik  link ini untuk tulisanku tentang Mas Daryono

Klik disini untuk tulisan Nono tentang Mbah Suripah
 
Nono yang narsis abisss, nyulik dari lapaknya tanpa izin ... hihihihi

Saturday, February 25, 2012

My Blogs

Tulisan ini merupakan edisi narsis, sebagai salah satu upaya mengembalikan mood kenarsisan yang entah mengapa hilang akhir-akhir ini. So, bagi yang biasa meraka muak melihat orang lain narsis, mending ga usah baca.

Ngomong-ngomong sudah lumayan lama juga aku ngeblog. Dimulai dari sekitar awal tahun 2005 di zaman Friendster masih eksis, meski aku mulai rajin dan teratur ngeblog di awal tahun 2006, setelah lulus kuliah dan merasa butuh dikejar-kejar deadline nulis sesuatu. :-P Maka aku pun mengejar diri sendiri untuk menulis minimal dua buah tulisan untuk narsis di blog.

Semula ngeblog di domain Eropa yang berlokasi di Blog UK dimana blogku kuberi nama A Feminist Blog. Jika aku di awal ngeblog menggunakan English ya tentu masih merupakan 'sisa-sisa' kuliah di American Studies mengingat zaman kuliah nulis paper tentu in English. Namun karena kebanyakan pengunjung dan penulis komentar adalah orang Eropa (ya mesti lah ya?) aku mulai nyari domain blog dimana bakal banyak pengunjung dari negeri sendiri. Dari blogwalking kesana kemari, aku bertemu blogger. Beberapa bulan kemudian aku bertemu domain multiply .

Aku masih sangat awam dengan bahasa html -- oh well, sampai sekarang juga masih super gaptek masalah bahasa satu ini sih -- sehingga blogger.com yang waktu itu masih mengharuskan para blogger piawai dalam penguasaan html jika ingin memperindah blognya, blogku sangatlah minim dekorasi. Namun tentu yang paling penting bagiku adalah aku mampu mengekpresikan diri dalam tulisan-tulisan yang kupost.

Aku mulai ngeblog dalam bahasa Indonesia mungkin semenjak aku kenal Abangku yang tinggal di NZ (seperti biasa, dia kupakai sebagai 'scapegoat' dalam hal yang satu ini :-D ). Masih tahun 2006 juga sih. :)

Aku mulai berhenti ngepost di blog A Feminist Blog sekitar tahun 2009. Well, nampaknya ketika aku mulai berasyik masyuk di Facebook. :-P Aku tetap ngeblog di blogger maupun multiply, padahal di blog.co.uk itulah aku banyak mendapatkan visitor dan komen, namun hanya satu dua komen yang kudapatkan dari orang Indonesia sendiri. (Ternyata aku tetaplah cinta negara sendiri. :-D )

Wait a second ... kok aku merasa semakin jauh dari ide awal aku menulis ini ya? :-D

Kembali ke blog di blogger.com Aku lupa mulai tahun kapan blogger tidak lagi begitu pelit pada para pemula dan mereka yang awam pada bahasa html. Blogger menjadi begitu mudah dipakai dan ditempeli hiasan ini itu, hanya dengan ngeklik ini itu itu ini. VOILA ... blog pun menjadi ramai. :)

Salah satu widget yang kupasang yang pada satu waktu dikarenakan penyakit narsisku sangat akut sangat sering kuklik untuk ngecek ada berapa pengunjung, berasal dari mana mereka menemukan blogku, keyword apa yang mereka gunakan, dll adalah widget yang kuambil dari www.statcounter.com Beberapa tahun lalu -- pada satu waktu -- aku menemukan 'nana podungge' sebagai salah satu keyword yang lumayan. You can imagine betapa besaar kepalaku karenanya. Apalagi ketika aku lihat IP address mereka yang menggunakan 'nana podungge' sebagai keyword bukanlah berasal dari Indonesia, namun datang dari belahan bumi Barat sana, Amerika. (Khusus untuk blogku di sini )

Sekian tahun berlalu.

Kesibukanku mengajar di sebuah sekolah internasional tak lagi mampu memaksaku sendiri untuk menghasilkan tulisan minimal dua post tiap minggu. (Aku mulai merasa seperti robot. :( ) 'Page rank' yang sempat lumayan tinggi pun menurun. Aku mulai melupakan widget satu ini. Lha gimana? Aku nulis aja belum tentu sebulan sekali. Apalagi ditambah blog-blog lain sehingga aku harus 'membagi' perhatian ga melulu ke satu blog yang sampai saat ini tetap kuberi tajuk A FEMINIST BLOG padahal isinya sudah tak lagi melulu tentang perempuan.

Namun ketika salah seorang tersayangku mulai ngeblog, dan kuberitahu tentang widget satu ini agar dia bisa memantai pengunjung ke blognya, entah mengapa aku sendiri pun mulai mengintai kembali ada apa di balik widget ini.

Kurang lebih dua minggu lalu di deretan keyword yang dipakai pengunjung yang mengantar mereka ke blogku aku menemukan kata 'nana podungge website'. WEDEW. Siapa yaaa? hihihihi ... Namun ketika kulihat domain IP address komputer yang dipakai, terlihat berada di daerah Indonesia.

Ternyata aku ga perlu lama-lama penasaran siapakah gerangan yang menggunakan kata 'nana podungge website' itu. Beberapa hari yang lalu seorang siswaku di kelas 4 bilang, "Miss Nana ... now I know your website address."

Aha ... for sure she was the 'culprit'. xixixixixi ...  "How could you come to my website address?" aku bertanya.

"I searched you in google by typing 'nana podungge website," jawabnya, merasa menjadi seorang technology savvy student. :-D

Dan aku pun menjadi lebih bersemangat menulis untuk blog lagi, terutama hasil diskusi di kelas. :)

C-net 16.39 25/02/12

Thursday, February 16, 2012

How well do you remember someone's face?

When I was working for one uni in Semarang, I used to sometimes have lunch in one simple food stall located not far from the uni. It sells some 'penyetan'. 'Penyet' means anything you eat -- perhaps fried chicken, fried egg, fried tempeh or fried tofu -- will be squeezed with 'sambel' or chilli sauce.

ayam penyet :)


I quit from that uni in October 2006. I don't think I ever went to that food stall again after that although the location is not far from the English Course I have been working since 1996.

This afternoon after going home from the school where I have been working since 2008, on the way to go to the English Course, suddenly I wanted to drop by. So I did.

Before entering the food stall, I saw two familiar faces outside of the stall. Ah, in fact they were the husband and wife who have the stall (so I thought). The wife looked into my face with disbelief look, She greeted me,

"Hey mbak, long time no see. It has been quite some time you didn't drop by here, right?"

I was dumbfounded. They, in fact, still remembered me! :)

After I finished having my meal -- not clear whether I can call it my second lunch or too early dinner -- I paid. The husband asked, "Why didn't you drop by for a long time? Did you move?"

Aha ... he could read it very well.

PT28 18.06 160212

English versus Boso Jowo

BAHASA INGGRIS LEBIH RIBET & BERTELE-TELE DARIPADA BAHASA JAWA !
walk slowly on the edge (side) of the road.
( mlipir )
fall backward and then hit own head
(nggeblak)
got hit by a truck that is moving backward
(kunduran trek)
talk too much about unimportant thing
(cangkeman)
smearing one's body with hot ointment or liquid and then massaging it
(mblonyo)
going without notice/permission
(mlethas)
taking the longer way to get to the destination
(ngalang)
riding an old bicycle
(ngonthel)
falling/ tripping forward (and may hit own face)
(kejlungup)
side effect after circumcision
(gendhelen)
hot pyroclastic cloud rolling down a volcano
(wedhus gembel)
a small, sharp thing embedded inside one's skin
(susuben/ ketlusupen)
spending a lot of time doing nothing
(mbathang)
feeling uncomfortable because there is something that smells bad
(kambon)
things getting out from a container accidentally because of gravity
(mbrojol)
get hit by thing collapsing on top of one's head/ body
(kambrukan/ kembrukan)
drinking straight from the bottle without using glass, where whole
bottle tip gets into the mouth
(ngokop )
cannot open eyes because something is shining very bright
(blereng)
cannot hold bowel movement
(ngebrok)
something coming out from one's rear end little by little
(keceret/ kecirit)
hanging on tightly to something in order to be inert
(gondhelan )
falling/ tripping accidentally because of a hole
(kejeglong)
doing something without thinking about the consequences
(cenanangan)
being overly active carelessly
(pecicilan)
feeling unwell because of cold temperature
(katisen)
making too much noise, disturbing other people
(mbribeni)
tripping over accidentally caused by wires, cloths, gowns etc.
(kesrimpet)

buying many goods to be sold again in order to obtain profit

(kulakan)



talking to much without knowing anything

(nyablak)



really..really need to go to rest room to pee = kpy alias kepuyuh

Thursday, February 09, 2012

Sinar Mentari Oh Sinar Mentari

Terinspirasi tulisan di lapak sebelah.

Semua orang tentu tahu betapa sinar mentari sangat dibutuhkan oleh manusia agar selalu sehat, asal takarannya pas, karena kalau terlalu banyak juga bakal menimbulkan penyakit tertentu, misal kanker kulit.

Bagi mereka yang tinggal di daerah tropis – misal Indonesia – tentu tidak akan kesulitan mendapatkan sinar matahari. Hampir sepanjang tahun kita bisa menikmatinya, bahkan ketika di musim penghujan. Saking terbiasa maka sangatlah dipahami jika sang surya yang biasanya menyinari bumi dengan penuh kasih ini menghilang – atau mungkin mengalah dihalangi awan hitam yang tebal – selama, misalnya, dua hari tiga hari akan sangat dirindukan oleh mereka para penikmat kehangatannya.

Begitu biasanya hingga kita pun tidak merasa betapa kita selayaknya bersyukur bahwa dengan sinar mentari ini tubuh kita menghasilkan vitamin D yang sangat kita butuhkan untuk kesehatan tulang.
Begitu membuncahnya sinar ini di negara tropis sehingga yang kita ingat hanyalah kita harus selalu melindungi diri dari sinarnya agar kulit kita tidak semakin menggelap dikarenakan membanjirnya iklan-iklan pemutih dengan slogan “beauty is white’ atau “white is beauty”. Iklan yang menyesatkan ini tidak memberi ruang kecantikan untuk kulit yang berwarna.

Atau mungkin yang kita nikmati dari sinar ini adalah agar cucian kita kering tanpa menggunakan mesin cuci atau agar cucian tidak berbau apek.

Tulisan di lapak sebelah yang inspiratif itu mengingatkanku betapa sangat tidak enaknya jika kekurangan sinar mentari yang menyebabkan tubuh kita tidak mampu memproduksi vitamin D. Apalagi bagi kita yang memiliki kulit berwarna; pigmen yang melapisi kulit yang biasanya terpakai untuk melindungi kulit dari ganasnya sinar mentari ketika berada di kawasan tropis akan menghalangi terbentuknya vitamin D ketika berada di negara yang miskin sinar matahari. Jika kita berada di negara tropis kita hanya butuh paling lama 20 menit sehari berada di bawah sinar matahari – itu pun disarankan sebelum jam sepuluh pagi – untuk membuat tubuh kita memproduksi vitamin D, ketika kita berada di negara yang terletak di belahan bumi utara, sinar matahari disana – yang memang jarang terlihat garang – tidak akan membantu banyak. Untuk mengantisipasinya, kita harus mengkonsumsi supplemen berupa vitamin D3 dalam kurun waktu tertentu. Jika tidak? Selamat datang ketidaksehatan yang bisa jadi dalam bentuk keropos tulang yang menyebabkan tubuh mudah pegal untuk melakukan aktifitas-aktifitas, bahkan yang ringan sekalipun.

Maka, bagi mereka yang masih saja menganggap sinar matahari musuh – dalam selimut atau luar selimut – yang dikarenakan termakan iklan-iklan pemutih kulit tubuh yang menyesatkan, cintailah sang surya. Bercintalah dengannya secukupnya. Demi kesehatan.

GL7 10.43 080212
Nana Podungge
(yang kulitnya semakin menggelap dibandingkan pada waktu masih duduk di bangku sekolah)

Saturday, January 28, 2012

A Perfect Daughter?

Have you ever been in a situation that made you HAVE TO make up a (white) lie in order that your parents will think you are a perfect kid? A perfect daughter?

I have been living in such a situation since a kid, so long time ago that I forgot when I started doing it. Feeling worried to be scolded or blamed – or worse is worry to hurt your parent’s feeling (or ego?) – has made me a liar.

(I realize now why in one personality quiz I did some time ago I got ‘introvert’ result. Despite the fact I talked a lot about my life to other people – my parents included for sure – in my daily life or via online, I keep some (perhaps very crucial not to mention embarrassing in my opinion) things for myself.)

One very easily guessable example when I was a teenager is to have a crush on a boy, moreover to have a date with him. My parents knew nothing about this kind of stuff of course.

The latest issue was when I started somewhat converting to being an agnostic. For this very extremely crucial topic, I would never open myself to my Mom. Instead of guessing and predicting whether she would ever understand my way of thinking or she would make me go away from her life that perhaps would break her heart – maybe in her eyes i choose to be in hell rather than to be with her in heaven – I choose to tell white lies. I dunno until when I have to do this.

I know I would never live my own life. This is the risk I have to live by.

Would you completely blame me for being such a coward?

From this life lesson, for sure, I choose to raise my only daughter with a very different way. She can always be in flaw in everything, but still she is my dearest and beloved daughter. She has NEVER to act as a perfect one by telling me white lies.

GL7 13.37 24/01/12

P.S.:

Or I defined 'white lies' wrongly> :'(

Wonosobo dan Dieng

Jika bukan karena undangan pesta pernikahan Echy – a workmate of mine at PBIS – tanggal 22 Januari 2012 kemarin tentu aku belum menyempatkan diri berkunjung ke satu tempat yang di satu website disebut sebagai salah satu tempat tertinggi di Pulau Jawa – Dieng Plateau. Kawasan wisata Dieng konon terletak sekitar 2000 meter di atas permukaan laut sehingga bisa dipahami jika hawanya cukup menusuk tulang, apalagi bagi seseorang yang terbiasa terpapar hawa panas kota Semarang: aku dan Angie. :)

Mengingat masih musim penghujan, apalagi bulan januari yang konon – lumrahnya – bakal turun hujan sehari-hari, maka aku tentu tidak menerima tawaran Ranz untuk gowes saja dari Semarang ke Wonosobo. :-D Selain itu tentu karena aku hafal betul track antara Bawen – Ambarawa – Secang yang naik turun secara ganas. Kalau dari Secang ke Temanggung kemudian ke Wonosobo memang aku tidak tahu karena memang seingatku hanya sekali aku lewat sana, yakni ketika menuju Purwokerto dari Semarang di tahun 2000, if I am not mistaken, bareng my brother and his late (first) wife.

Memang tidak salah jika dikatakan bahwa Wonosobo terpilih sebagai salah satu kota terbersih (dan juga tertata rapi) di Jawa Tengah. Hal ini kubuktikan ketika berkesempatan gowes di sana. Seperti biasa seorang Nana akan selalu bepergian dengan membawa serta – jika tidak menaiki – salah satu sepeda yang paling sering diajak menemani bikepacking: Snow White. Ranz pun membawa Pockie yang lebih sering kunaiki dalam perjalanan karena Snow White seperti biasa dibebani membawa tas panier di boncengannya. :-D

21 Januari 2012

Kita berangkat hari Sabtu tanggal 21 Januari 2012. Pockie dan Snow White duduk manis berhimpitan di bagasi. Kita meninggalkan Semarang sekitar pukul 09.30 dan sampai di alun-alun Wonosobo sekitar pukul 13.30 karena kendaraan yang kita naiki berjalan dengan lambat meski pasti. Kita langsung menuju hotel Arjuna yang terletak di Jalan Sindoro, terletak tak jauh dari gedung tempat penyelenggaraan resepsi pernikahan Echy dan Aji keesokan hari yang kebetulan terletak di sekitar alun-alun.

 
Wonosobo berkabut di sore hari

Setelah istirahat secukupnya, aku dan Ranz keluar menuju alun-alun naik sepeda sedangkan Angie masih melanjutkan istirahatnya. Senja itu kita menikmati kabut yang menggantung dengan manis namun mistis. (Semarang bawah mana ada kabut? LOL.) Alun-alun Wonosobo sendiri memang sangat asyik digunakan untuk hang out. Ada ‘track’ yang nampaknya khusus disediakan bagi para penikmat jalan kaki maupun pesepeda, tanpa terganggu para pedagang kaki lima. Di tengah alun-alun aku melihat sekelompok anak-anak bermain bola. Sementara itu, di luar areal alun-alun ada beberapa warung angkringan yang berjualan beberapa jenis wedang, dari teh, wedang jahe, susu, wedang jahe susu, kopi, dll. Juga ada penjual kentang goreng, siomay, bakso, sate, dll. Just take your pick.

 
gowes di alun-alun

Tak lama kemudian Angie pun menyusul kita dengan berjalan kaki. Letak hotel Arjuna memang sangat dekat dari alun-alun, jalan kaki kurang dari lima menit.

Untuk makan malam kita memesan dua porsi sate (ayam) dan lontong karena perutku lumayan kenyang. (aku sendiri lupa makan apa ya sebelumnya? ) Kita berencana selesai makan kita akan berjalan bersama menuju mini market yang tak jauh dari situ untuk membeli air mineral dll yang kita butuhkan. Namun baru saja kita selesai makan malam, hujan turun. Untuk menyelamatkan diri dari kehujanan kita pun berteduh ke warung angkringan yang paling dekat dengan tempat kita makan waktu itu.

Menunggu hujan reda terasa lama karena di dalam warung tempat kita nunut ngiyup dipenuhi beberapa lelaki yang merokok. Angie yang pertama nampak resah dan ingin segera meninggalkan warung itu. Ketika hujan sedikit reda, Ranz memutuskan untuk secepatnya kembali ke hotel untuk mengambil payung lipat yang kita tinggal di kamar. Ketika Ranz kembali ke warung, hujan kembali melebat, sehingga dia menawarkan dia saja yang gowes ke mini market (yang tidak begitu mini ukurannya) untuk membeli beberapa barang yang kita butuhkan.

Kembali dari mini market, Ranz membawa sebuah tas plastik lumayan besar berisi air botol mineral, beberapa munchies, dan mantel. hujan masih deras sehingga Angie pun harus mau mengenakan mantel untuk melindungi diri dari hujan ketika akan kembali ke hotel. Setelah mengantar Angie kembali ke hotel, Ranz menjemputku yang masih bertahan nangkring di warung, dan gantian aku yang mengenakan mantel. Kita kembali ke hotel sambil menuntun Pockie dan Snow White.

Hawa dingin kota Wonosobo lumayan nyaman hingga kita pun tidur nyenyak.

22 Januari 2012

Sekitar pukul enam pagi aku dan Ranz bersepeda meninggalkan hotel untuk menikmati kontur jalan kota Wonosobo yang naik turun meskipun kita ga berani jauh-jauh, in case tiba-tiba Angie mau nyusul untuk sarapan di daerah alun-alun.

Pagi itu cukup cerah. Tak nampak sisa-sisa hujan deras yang turun semalam. Alun-alun Wonosobo dipenuhi warga kota yang ingin menikmati kebersamaan dengan orang-orang tersayang, juga mereka yang ingin berolahraga. Suasana terlihat sangat meriah. Di salah satu ‘sudut’ alun-alun ada pertunjukan sejenis ‘ledek monyet’. Yang sempat kulihat ketika lewat adalah seekor monyet unjuk aksi naik sepeda super mungil. Pedagang yang mengadu untung di sekitar alun-alun pun jauh lebih banyak ketimbang sore hari sebelumnya. Untuk sarapan aku memilih pecel pincuk – yang ternyata daun pisangnya hanya dipakai untuk alas, ditaruh di atas sebuah piring yang terbuat dari rotan, dan tidak benar-benar dibentuk ‘pincuk’ – sedangkan Ranz seporsi siomay dan Angie seporsi siomay goreng. Kita sempat mencicipi ‘tempe kemul’, salah satu makanan khas kota Wonosobo yang kalau di tempat lain disebut ‘mendoan’.

Usai sarapan Angie memilih kembali ke hotel, aku dan Ranz kembali gowes muter-muter. Sekitar pukul 10 kita kembali ke hotel untuk mandi, persiapan ke resepsi, dan packing.

Sekitar pukul 11.15 kita berjalan menuju gedung tempat penyelenggaraan resepsi. Kita kembali ke hotel sekitar pukul 12.45, ganti baju, dan langsung check out. Tujuan berikutnya adalah Dieng Plateau.

Seperti yang telah kusebut sebelumnya, kawasan Dieng terletak pada ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut sehingga track yang kita lewati tentu banyak menanjak curam. Snow White dan Pockie kembali duduk anteng dalam bagasi.

keluar dari wisma Flamboyan, Dieng

Kita sampai di ‘pusat’ keramaian kawasan wisata Dieng sekitar pukul 14.45 dan langsung menuju ke wisma Flamboyan tempat kita akan menginap malamnya. Setelah istirahat sebentar, sekitar pukul setengah empat sore – kebetulan cuaca sangat cerah, matahari bersinar terang, tak ada kabut menggantung sedikit pun – kita keluar menuju kawasan Candi Arjuna yang terletak hanya sekitar 200 meter dari penginapan. Tiket masuk per orang Rp. 10.000,00, dimana ditulis tiket ini berlaku untuk masuk kawasan Candi Arjuna dan Kawah Sikidang.

kawasan Candi Arjuna

Kulihat banyak rombongan wisata yang datang dari berbagai daerah. Bahkan aku pun sempat mendengar sekelompok orang bercakap-cakap dalam bahasa Mandarin, sekelompok orang lain lagi bercakap-cakap dalam bahasa Jepang, juga tentu ada sekelompok turis kulit putih yang berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

 
di alang-alang

kawasan candi Arjuna dari jauh

Kawasan wisata Candi Arjuna terletak di ‘lembah’ dimana di sekitarnya terlihat pemandangan yang indah luar biasa, apalagi dengan hawa dingin yang sangat segar. Bahwa beberapa candi tidak lagi dalam keadaan utuh tidak membuat nilai cagar budaya satu ini berkurang. Aku tidak sempat mencatat nama-nama candi satu per satu namun aku dan rombongan menyempatkan diri muter areal yang lumayan luas itu. Kepenasaranku untuk menemukan areal telaga ‘Balekambang’ membuat kita muter lumayan jauh, hingga kita sampai ke satu candi yang lokasinya lumayan jauh dari candi Arjuna, disebut candi Setiaki dimana atapnya telah lenyap entah kemana. Telaga Balekambang sendiri ternyata telah banyak ditumbuhi rerumputan hingga hampir tidak dapat diketahui lokasinya dengan pasti.

Menjelang setengah enam sore kita keluar dari kawasan wisata Candi Arjuna. Di luar pintu masuk ada beberapa kios yang menjual makanan, minuman, dll. Kita menikmati kentang goreng yang satu porsi dihargai sepuluh ribu rupiah meski  kentang goreng yang sama dengan porsi yang sama juga ‘hanya’ dihargai tiga ribu rupiah di alun-alun Wonosobo. Padahal Dieng disebut sebagai salah satu pusat penghasil kentang yang melimpah.

Sekitar pukul setengah enam sore kita telah kembali ke penginapan. Gerimis mulai turun. Hawa pun tentu tambah dingin sehingga meringkuk di bawah selimut tebal yang disediakan adalah pilihan yang sangat tepat. Semakin malam hujan semakin deras dan tak ada tanda-tanda akan berhenti, sehingga kita pun malas keluar untuk mencari makan malam. Akibatnya kita tidur dalam kondisi perut lapar. :-D

23 Januari 2012

Pukul enam pagi Angie masih meringkuk di bawah selimut, sedangkan aku dan Ranz keluar berjalan-jalan melihat suasana di sekitar penginapan. Ada sebuah warung makan sederhana yang telah buka, berjualan nasi bungkus, tempe kemul dan tahu kemul. Aku sempat bertanya pada seorang penduduk sekitar arah menuju Telaga Warna. Ternyata Telaga Warna terletak tak jauh dari penginapan, hanya sekitar satu kilometer. Kalau dilihat track yang bakal kita lewati tidak menanjak sadis, maka aku memutuskan untuk segera kembali ke penginapan, membangunkan Angie dan mengajaknya jalan.

Sekitar pukul tujuh kita keluar dari penginapan. Kita sarapan nasi bungkus dan tempe kemul di warung yang kusebut di atas. Setelah sarapan, menuju Telaga Warna aku naik Pockie, Angie naik Snow White, sedangkan Ranz jalan kaki. :-P Tiket masuk per orang Rp. 5000,00.

Telaga Warna dari ketinggian

Jika dilihat dari arah dekat air di Telaga Warna tidak menunjukkan warna-warna yang berbeda. Kita bertiga sempat berjalan lumayan jauh (dari pintu masuk kita belok ke arah kiri), sampai kita menemukan lokasi dimana nampak beberapa titik yang ber’denyut-denyut’ mengeluarkan asap. Dari sana kita kembali ke arah pintu masuk, kemudian melanjutkan berjalan di jalan setapak yang menuju lokasi beberapa goa. Kita sempat menemukan goa Semar, goa Sumur, dan patung Gajahmada. Ketika akan melanjutkan ke lokasi Telaga Pengilon yang katanya kita bisa mengaca di atas airnya untuk mengenali diri apakah kita orang baik atau buruk, Angie menolak. Cape. Meskipun begitu ketika kita hampir sampai di pintu masuk kembali, ada penunjuk jalan untuk menuju Dieng Plateau Theatre dimana para pengunjung bisa menonton film dokumenter yang menggambarkan kawah Sinila mengeluarkan asap beracun di tahun 1979, Angie setuju kuajak ke arah DPT meski jalannya naik terjal. Akan tetapi ternyata Angie ga mampu melanjutkan perjalanan sampai ke DPT. Dia memilih berhenti dan membiarkan aku terus berjalan naik. Dari daerah yang lumayan tinggi ini aku sempat menjepret Telaga Warna yang menunjukkan tiga warna yang berbeda di permukaan airnya, hijau muda, hijau tua, dan (agak) biru tua. Aku memutuskan tidak ingin meninggalkan Angie sendiri, sehingga kita pun turun, berjalan menuju pintu keluar.

Telaga Warna di belakang kita

Telaga Warna

Keluar dari kawasan Telaga Warna, kita mampir ke sebuah warung makan yang terletak dekat areal parkir. Untuk pertama kali aku memesan mie ongklok karena di beberapa artikel di website yang kubaca menuliskan “belum sampai ke Wonosobo/Dieng jika belum makan mie ongklok.” Rasanya menurut lidahku biasa saja, mungkin karena aku membeli di tempat yang tidak menjual mie ongklok dengan rasa yang luar biasa ya? Sarapan yang kedua ini sekaligus untuk beristirahat.

Kawah Sikidang

Selesai sarapan, kita melanjutkan perjalanan ke arah Kawah Sikidang. Seorang penunjuk jalan mengatakan lokasinya sekitar satu kilometer dari Telaga Warna. Kembali aku naik Pockie, Angie naik Snow White, Ranz berjalan kaki. :-D Sebelum sampai ke gerbang masuk Kawah Sikidang, kita mampir dulu ke Candi Gatotkaca yang terletak tak jauh dari gerbang masuk.

Di gerbang kita ditanya apakah kita telah membeli tiket masuk. Untunglah tiket masuk yang kita beli sehari sebelumnya kusimpan di tas yang kubawa. Setelah menunjukkan tiket yang masih rapi itu, kita melanjutkan perjalanan. Kali ini, aku naik Snow White, Ranz naik Pockie, Angie jalan kaki. Dia cape naik sepeda rupanya. :-D but lucky her, tiba-tiba salah satu petugas yang menjaga gerbang masuk datang nyamperin Angie naik motor, dan memboncengkannya sampai ke lokasi Kawah Sikidang. Di dalam lokasi ada beberapa kuda untuk disewa pengunjung. Selain itu juga beberapa motor trail dan ATV. Kita memilih jalan kaki saja setelah memarkirkan Pockie dan Snow White di tempat parkir.

 
difotoin turis bule yang baik hati :)

Tak henti-henti aku mengagumi keindahan Dieng dan pemandangan sekitarnya. “But the cold weather is not cool,” komplain Angie. LOL.

Kawah Sikidang sebagai latar belakang

Setelah puas berjalan di areal Kawah Sikidang (meski ga jauh-jauh amat) kita segera kembali ke penginapan, sekitar 3 kilometer. Aku naik Pockie, Angie naik Snow White, Ranz jalan kaki. Track pulang ini lumayan membuat berkeringat karena kontur jalan yang naik turun.

Kawah Sikidang dari dekat

Kita sampai di penginapan sekitar setengah duabelas. Setelah packing dan shalat Dzuhur kita kembali ke Wonosobo dan terus pulang ke Semarang. Aku dan Angie sampai rumah sekitar pukul setengah delapan malam.

Karena masih ada beberapa tempat yang belum sempat dikunjungi seperti Telaga Menjer, perkebunan teh Tambi, dll, aku masih menyimpan hasrat untuk kembali ke Wonosobo dan Dieng. Entah kapan. :')

GL7 15.00 260112


P.S.:
photo credit to dear Ananda Ranranz Pratika :-)