Saturday, June 09, 2018

P an t a i



"Kamu pernah dengar ga orangtua zaman dulu biasa mengajak anak balitanya ke pantai / laut jika si anak sakit batuk ga sembuh-sembuh? Konon jika si anak dimandikan di air laut di pagi hari, batuknya akan segera pergi, dan si anak sehat kembali," tanyaku pada Ranz.

Pagi itu kita sedang duduk-duduk di pinggir pantai Marina, sambil memandang keriaan anak-anak yang sedang bermain air. Sebagian bermain-main sendiri, sebagian lain bermain dengan orangtuanya masing-masing.

Mendengar pertanyaanku, Ranz pun menoleh padaku, dengan mimik wajah heran.

"Belum pernah. Tapi, beneran tuh kemudian batuknya hilang setelah dibawa ke pantai?" tanyanya balik.

"Seingatku sih iya; baik berdasarkan pengalaman pribadiku waktu masih kecil, maupun ketika Angie, anakku, masih kecil," jawabku, sedikit heran ternyata tidak semua orang pernah mendengar mitos air laut maupun udara laut yang bisa menyembuhkan batuk.

"Bagaimana orangtuaku akan mengajariku tentang hal ini ya lha wong kita hidup di Solo, yang jauh dari pantai?"

"Ah ... iya! Mungkin karena kalian hidup di kota yang jauh dari pantai maka tidak ada perbincangan maupun praktek membawa anak-anak yang sedang sakit batuk ke pantai!" jawabku riang.

Aku pikir apakah hanya orang-orang Semarang saja yang percaya bahwa hawa laut bagus untuk kesehatan. Tapi kemudian aku berpikir lagi, mungkin bukan orang Semarang, melainkan karena kedua orangtuaku dari Gorontalo yang juga terletak tak jauh dari pinggir laut.

Ketika aku share paragraf pertama di atas di akun facebook-ku, ada beberapa komen yang masuk. Satu komen menyatakan kesetujuan; waktu anak-anaknya kecil batuk, dia bawa mereka ke pantai. FYI, dia saat ini tinggal di Semarang, (meski pernah tinggal di Jakarta), jadi kemungkinan bahwa mitos hawa laut bagus buat yang sedang sakit batuk pun dia dengar. :) Satu komen lain menyatakan bahwa air laut yang mengandung banyak mineral bagus untuk tubuh kita.

Nah! :)

Waktu aku kecil, aku ingat kedua orangtuaku kadang membawaku dan kakakku ke laut, dan membiarkan kita berdua mandi di air laut. Tentu aku tidak ingat apakah sekian dekade lalu air laut di kota Semarang cukup bersih dan jernih sehingga layak untuk mandi. Waktu Angie kecil dan sakit batuk, aku pun membawanya ke pantai. Namun aku tidak punya hati untuk menceburkannya ke air karena pantai-pantai kota Semarang tak lagi memiliki air yang layak untuk dipakai berenang. hihihi ... Aku hanya mengusap ubun-ubunnya dengan air laut yang kuambil dengan tangan.

Semenjak aku punya waktu yang cukup luang di pagi hari, terkadang aku sepedaan ke pantai. Aku sering melihat orang-orang yang membawa balitanya (bahkan kadang batita) ke pantai, kemudian dia bawa ke air. Balita-batita itu diceburkan ke dalam air, tentu orangtuanya pun juga menceburkan diri ke dalam air. Biasanya anak-anak itu akan menjerit kegirangan, dan tertawa-tawa. Karena aku terbiasa dengan mitos bahwa air laut / hawa laut bagus untuk anak-anak yang sedang sakit batuk, itu adalah pemandangan yang selalu kucari jika pagi-pagi aku ke pantai untuk menjaring foto sunrise. :) Hmmm ... bahkan di era milenial ini, masih banyak orang yang melakukan hal ini. Akankah aku melakukannya pada cucuku kelak? hihihi ...

Kembali ke status facebook-ku, ada dua komentar yang sama dengan yang dikatakan oleh Ranz : mereka lahir dan besar di kaki gunung, dan jauh dari laut, sehingga mereka tidak pernah mendengar tentang mitos ini. :) Ya masuk akal sih :D

IB 09.09 09062018


Wednesday, June 06, 2018

M a g n e t



Sekian hari lalu, di satu acara sepedaan bareng, seorang kawan, perempuan, menyatakan keheranannya pada laki-laki yang berbondong-bondong follow akun (contoh: instagram) seorang perempuan cantik. "Aku ga paham, buat apa sih laki-laki itu follow akun perempuan cantik yang tidak mereka kenal langsung?"

Sebagai seorang perempuan -- yang pernah merasa cantik sekian tahun lalu, lol -- aku juga pernah bertanya pada diri sendiri seperti itu, meski tidak pernah kuutarakan pada siapa pun, apalagi membahasnya pada seseorang. Itu sebab aku tidak menjawab pertanyaan kawan sepedaanku itu, selain tertawa; entah apa yang kutertawakan. lol.

Pertanyaan ini mengingatkanku pada beberapa kawan perempuan fesbuk yang keukeuh tidak pernah mengunggah foto aslinya sebagai foto profil. Salah satu alasan yang mereka kemukakan -- yang masih aku ingat -- adalah ingin agar para 'fans' fesbuknya (atau well, kawan fesbuk deh) memujanya, atau mungkin hanya sekedar mau berteman dengan mereka bukan karena kecantikan fisik semata, namun karena mereka cerdas dan menarik (plus menyenangkan) untuk dijadikan kawan di fesbuk. Mereka tidak ingin kecerdasan mereka ini tidak dianggap penting, dan tertutupi kemolekan fisik mereka.

Pertanyaan yang sama mengingatkanku pada seorang perempuan yang kadang akunnya aku stalking. hihihihi ... sebagai sesama perempuan, aku tidak menganggapnya (wajahnya) cantik, (I have my own 'standard' to call a woman beautiful) dia "hanya" kebetulan memenuhi standard kecantikan media, kulit putih terang, dan tubuh tinggi langsing. Karena aku dan dia tidak berteman, aku hanya bisa stalking foto-foto yang dia unggah dan diset public, dan aku tidak bisa tahu apakah dia juga terkadang menulis status yang mungkin dia set terbatas. Di tiap foto diri yang dia unggah, jumlah orang yang ngelike -- kebanyakan laki-laki -- pasti mencapai ratusan jempol. You can guess, komennya relatif sama, "cantik!" Benar-benar membosankan. lol. (Shhhttt ... hasil stalking-anku hanya membuatku bosan, namun toh once in a blue moon mendadak aku ingat padanya dan ingin stalking. kekekekeke ...)

Sekarang, jika kubandingkan dua jenis perempuan yang kutulis di dua paragraf di atas, yang tidak mengunggah foto asli, punya fans dari dua jenis kelamin. Para fans ini tidak peduli apakah si pemilik akun beneran cantik -- dan tidak mau kecantikan fisiknya mengalahkan kecerdasannya -- mereka terus menyukai status-status yang ditulis. Sedangkan jenis perempuan yang kedua, fansnya kebanyakan laki-laki. Jika pun ada perempuan, pasti karena mereka benar-benar kenal di dunia nyata.

Bisakah kuambil kesimpulan bahwa laki-laki (tidak semua sih) hanya tertarik pada kulit, tanpa isi? Karena mereka tidak mau kalah saingan? kekekekekeke ...

Saturday, February 17, 2018

Two Coins ...

Every facet of our lives must have these two coins : happiness and sadness, sweetness and bitterness.

At this term, in my workplace, I have a student whose hobby is singing. This is something that often happens, isn't it? And so far, in my experience, I have sometimes asked my students whose hobby is singing to sing in the classroom, but they mostly refused. Feeling shy is always the excuse. LOL.

To that point, I never asked this student of mine to sing in the classroom. However, these past two weeks, he has been often absent. His classmates said that he had to practice before joining a competition. This made me think he must be ready to perform in front of audience; it means I can ask him to sing in the classroom. :D

So? Last Wednesday when he came to our class, I asked him to sing one favorite song of his. To my surprise, he looked shy! Ouwh ... But I didn't give in. LOL. After waiting for some minutes (around 10 minutes LOL), he finally sang ... together with one classmate of his! LOL. They chose PERFECT, a song by Ed Sheeran.




And, just like that ... it made me remember one dear student of mine, back to a few years ago. ...

Vito, was the only student of mine in grade 7, because his classmate quit, moved out of town. We spent more than 10 slots together, both in English and in History subjects. A few years later, when he was in grade 11, he had one classmate who liked singing too, and another one who liked playing guitar. Three of them used to sing together in the class. Sweet memories ...

Vito and his fiancee, pic taken December 2017, time flies so fast!


I would love it if in every class of mine, there are some students who love singing and then sing in the classroom. heheheheh ...

IB180 13.36 17/02/18

Wednesday, February 14, 2018

B a p e r


Baper

foto diambil dari sini

Beberapa tulisan saya (atau mungkin banyak ya? Kekekekeke ...) terwujud karena baper. Ada yang saya tulis di akhir postingan bahwa saya menulis artikel itu karena baper, lol, namun lebih banyak lagi yang tidak saya tandai bahwa saya baper. LOL.
Nah, barusan saya membaca satu status di satu grup sepeda, “gowesku gowes sehat, bukan gowes cari jauhnya ... cari pujiannya ... setuju ...” Dan saya langsung merasa terhibur, karena saya langsung tertawa terbahak-bahak, tapi juga sekaligus baper. Gowes yang tidak sehat itu gowes yang seperti apa dong? Lol. Dan kategori gowes jauh itu seberapa jauh? Gowes seperti apa yang dikategorikan agar dipuji orang? wakakakakaka ...


Jadi ingat beberapa tahun yang lalu, ngobrol dengan seorang kawan sepeda yang tinggal di daerah Jakarta. Satu hari Minggu dia bersepeda di kawasan car free day. Seperti biasa, jika kita bersepeda di kawasan CFD, dan bertemu dengan kawan sepedaan yang lain, kita bakal berhenti, dan ngobrol. Nah, saat itu, dia melihat orang yang datang ke kawasan situ, naik mobil (mungkin lewat sejenis jalan sempit/gang ya?), memarkir mobilnya di satu tempat, kemudian keluar dari mobil membawa sepeda lipat yang terkenal mahal harganya. Beberapa saat kemudian, seseorang lain datang, naik mobil, parkir di tempat yang tidak jauh dari situ, mengeluarkan sepeda lipat jenis sama. Seseorang yang datang belakangan ini kemudian nyamperin temannya yang datang terlebih dahulu. Lantas mereka terlihat ngobrol.

diambil dari link ini

Komentar kawan saya yang melihatnya, dua orang itu terlihat asyik berdua, tidak menyapa pesepeda-pesepeda lain yang juga ada di lokasi yang sama. Mungkin mereka merasa kasta mereka lebih tinggi dibanding yang lain, apalagi yang lain “hanya” naik sepeda yang harganya jauuuuh di bawah sepeda lipat import tersebut.

Setelah sekian waktu berlalu, dua orang itu berpisah, masing-masing kembali ke mobil mereka, melipat sepeda, memasukkannya ke dalam mobil, kemudian pergi.
Apa itu yang dikategorikan tidak sehat ya? Lha sepedanya Cuma buat pajangan? Tidak untuk dinaiki? Agar bisa dikategorikan “gowes sehat” ya minimal naiki lah sepedanya barang 5 – 10 kilometer. Hihihi ... padahal jarak 10 kilometer itu bagi mereka yang tidak biasa bersepeda ya jarak yang super jauh. (pertama kali ngikut funbike dengan jarak sekitar 10 kilometer, sorenya saya klenger je. LOL.)

di ketinggian 1200 mdpl

Gowes cari pujian itu apalagi coba? Ada orang yang merasa bersepeda kalau tidak menapaki tanjakan tidak merasa mantap, ada yang nanjak secukupnya, namun juga ada yang merasa perlu nanjak sampai ratusan bahkan mencapai seribu meter dpl. Apakah mereka mencari pujian? Belum tentu. Itu kan tergantung kebutuhan masing-masing orang.

Saya merasa butuh bersepeda antar kota (jika memungkinkan juga antar propinsi) bukan karena ingin dipuji, tapi itu berurusan dengan kepuasan batin je. Selelah apa pun, seklenger apa pun setelah bersepeda, jika hati senang melakukannya (dan tahu diri batas2 yang kita miliki), what is wrong with that?

Sebenarnya saya pingin nulis lebih panjang lagi, tapi entar ketahuan betapa saya  baper setengah mati, dan kurang kerjaan sekali. Kekekekeke ...

LG 15.45 14/02/2018

Monday, December 18, 2017

Scary Questions

I just read a friend's status on social media. She wrote that a new acquaintace of hers treated her lunch; after the lunch, that new acquaintance asked my fb friend, "What is your religion?"

Due to the fact that nowadays, Indonesia's atmosphere has easily got tense in the name of religion -- people seem no longer frendly anymore to other people with different religion/faith/spirituality, my friend was confused to answer that question. She regretted for accepting the free lunch. LOL. Would it make her in a difficult situation in the future?

In the same status, she wrote, "I would rather be asked when I would get married than what my religion was." (hey, read this in humorous tone, will ya? LOL)

Background:

Many women in certain age brackets are easily annoyed when they are asked about marital status.


Reading that status of hers, I remember one serial in Sex and the City. In that serial, Charlotte just got involved in a lesbian group. She thought those women were intellectual, successful, and fun to make friend with. She realized how nice her life was without feeling worried thinking about (unfaithful) men. LOL.

Perhaps she would go on being involved with those lesbian women -- as an alternative of her three best friend circle, Carrie, Samantha, and Miranda.

One day, her lesbian friends invited her to a party. One of the girl offered her to go on a holiday together with the others, to one exotic island. They would go there by private jet owned by the 'big boss'. Then, she introduced Charlotte to the big boss.

After some friendly chitchat, the big boss asked her, "Are you gay?"

Charlotte seemed unprepared with that question. (while in fact Samantha had warned her about this before.) Innocently she answered that she found a very nice bond among her new lesbian friends, very relieving to live without thinking of man, bla bla bla ... The most important point was, "In sex, I think, no, I believe I am straight."

The big boss smiled, while showing smurky face, "We will not accept you if you don't eat pussies." LOL.

So, my question is, in your opinion, which is the most threatening question?

1) What is your religion?
2) Are you married?
3) Are you gay?

LOL.

IB 16.46 18/12/2017

Thursday, December 14, 2017

Mantan o Mantan

Barusan baca di satu grup facebook tentang kisah seseorang yang hadir ke pernikahan mantan (pacar). Dia (perempuan) datang karena di hatinya sudah tidak ada lagi rasa suka kepada sang mantan; sehingga dia datang ya hanya sekedar untuk menghormati undangan yang dikirimkan kepadanya.

taken from here

Sungguh di luar dugaannya ketika di pernikahan itu dia bersalaman dengan sang pengantin laki-laki, si pengantin menggenggam tangannya cukup lama, sambl mengatakan sesuatu yang blas ga enak didengar, (aku agak lupa kalimat tepatnya bagaimana) "Kamu ga usah baper ya? Aku nikah duluan, Semoga segera nyusul, masak kamu single terusan?" LOL.

Karena terpana (lebay yo ben kata-kataku ini LOL), , dan ga mau kalah, si perempuan menjawab, "Aku sih gampang mencari pengganti kamu. Aku malah kasihan sama si mbak yang kamu nikahi, kok dia mau dapat bekas orang lain?"

wkwkwkwkwkwkwkwk ...

Aku sih belum pernah datang ke pernikahan mantan. Para mantan (uhuk!) menikah tanpa mengundangku, eh, karena kita juga sudah lamaaaa ga berhubungan lagi. LOL.

Beberapa tahun yang lalu mantanku (baca : bokapnya Angie) menikah. Kupikir (bukannya ge-er ya) aku akan diundang. Aku sempat mempertimbangkan kira-kira akan datang atau tidak. (seperti si mbak yang ada di kisah di atas), aku sama sekali sudah tidak ada perasaan apa pun ke dia, positif maupun negatif) Namun ternyata aku tidak diundang. Ya syukurlah. LOL.

Tapiii ... seandainya aku diundang, dan aku datang, kemudian kejadian si mbak di atas terjadi kepadaku, aku akan bilang ke dia, "Lha wong kamu itu kubuang di pinggir jalan. Kok ya mau-maunya perempuan ini memungutmu? Kalo aku, jelas ogah." LOL.

N.B:
Apa alasanmu datang ke pernikahan mantan? LOL.

IB180  14.30 14/12/2017

Thursday, December 07, 2017

Rafting bersama CitraElo



Yang namanya rezeki, kadang memang tak pernah kita duga datangnya ya? Terkadang, ... bum ... out of the blue ... sekonyong2 ... begitu saja rezeki itu datang. LOL.

Itulah yang kurasakan ketika mendadak seorang rekan kerja memberitahu bahwa kantor tempat aku bekerja sejak tahun 1996 (angkatan jadul banget! LOL) akan mengadakan outing yang berupa arung jeram a.k.a rafting.

Sebagai seorang pecinta olahraga berenang (cinta pertamaku sebelum mengenal sepedaan, well, meski aku tentu telah bisa bersepeda sejak duduk di bangku SD, namun jatuh cinta pada olahraga bersepeda ini kurasakan baru mulai tahun 2008 :D) tentu saja aku menyukai tawaran bermain air yang ... well ... cukup memacu adrenalin ini : arung jeram. Maka, tentu saja aku tidak mengabaikan tawaran ini.

Tiga hari sebelum berangkat, setelah aku yakin ada beberapa kursi kosong – karena beberapa rekan kerja menyatakan tidak bisa ikut – aku menawari Angie ikut. Angie yang telah kuperkenalkan pada dunia berenang sejak dia berusia enam tahun tentu dengan suka cita menerima tawaranku ini. Yuhuuu ... berarti ini adalah rafting bersama kita berdua yang kedua kali. Yang pertama, tahun 2016 bersama rekan kerja Angie. Kali ini bersama rekan-rekan kerjaku.

Minggu 26 November 2017

Aku dan Angie telah sampai kantorku yang terletak di Jalan Imam Bonjol sebelum pukul lima pagi. Bus yang kita tumpangi meninggalkan kantor sekitar pukul 05.05, molor 5 menit dari waktu yang telah kita sepakati bersama.


Perjalanan cukup lancar. Kita sampai di lokasi CitraElo pukul 07.20, 40 menit lebih awal ketimbang waktu yang ditentukan oleh pihak penyelenggara. Karena kita datang cukup pagi, kita masih ada waktu untuk menikmati suasana pedesaan di sekitar kita. Gunung nan hijau, air sungai Elo yang mengalir, beserta pepohonan di sekitar. Sungguh asri dan sedap dipandang mata. Berhubung saat itu sedang musim hujan, hawa sungguh sejuk dan segar. Matahari nampak malu-malu bersinar.


Sekitar pukul setengah sembilan kita diberangkatkan ke Blondo, nama daerah dimana kita akan memulai perjalanan arung jeram. Kita diantar kesana dengan mengendarai angkutan umum yang telah disewa oleh CitraElo. Di atas tiap-tiap angkutan yang kita kendarai, pihak penyelenggara meletakkan dua buah boat, dimana di dalam boat itu terletak life jacket yang akan kita kenakan. Dayung diletakkan di dalam kendaraan.

Setelah sampai Blondo, kita dibagi dalam beberapa kelompok. Tiap-tiap kelompok terdiri dari 5 orang, menjadi enam orang bersama sang pemandu rafting. Di kelompokku ada aku, Angie, Nurjannah (NJ), Imam, dan Samsul.


Seperti biasa, sebelum kita diberangkatkan, ada seorang instruktur yang memberi kita arahan hal-hal yang harus kita perhatikan. Sangat penting bagi para newbie, sedangkan bagi mereka yang telah kesekian kali rafting, arahan ini bisa menjadi semacam penyegaran kembali.

Sekitar pukul setengah sepuluh, kita mulai bergerak menuju air. Dalam boat, Samsul dan Imam duduk paling depan. Di baris kedua ada aku dan NJ, Angie duduk di baris ketiga, sendirian. Sang pemandu – pak Gimin namanya kalau aku tidak salah dengar – duduk paling belakang.

Jika tahun lalu aku membawa hape yang kuletakkan dalam wadah plastik yang kukalungkan di leher, kali ini aku sama sekali tidak membawa apa-apa. Baju ganti kutinggal dalam bus, sedangkan hape dan lain-lain kuletakkan dalam tas Angie yang disimpan di satu ruangan yang disediakan oleh CitraElo di base camp mereka.


Seperti biasa, yang membuat perjalanan sepanjang arung jeram exciting dan meriah adalah kehebohan para peserta. LOL. Kebetulan pak Gimin seorang pemandu yang usil, baru beberapa meter kita meninggalkan titik awal, dia sudah mulai mencipratkan air kepada ... kita berlima! Yeay! LOL. Yang membuat Angie, aku, NJ, Samsul dan Imam basah yang pertama kali adalah pak Gimin sendiri! LOL. Setelah itu barulah kita mulai bermain mencipratkan air kepada para peserta lain yang boat-nya ada di sekitar kita.

Dua laki-laki yang duduk di boat yang sama denganku ternyata tidak memiliki daya fight yang tinggi. LOL. Berhubung tidak ada sejenis kompetisi yang nyampai duluan di titik akhir bakal dapat award, mereka berdua mendayung dengan santai, sama sekali tidak terburu-buru. Melihat mereka berdua seperti itu, ya sudahlah, aku dan dua perempuan lain di belakang ikutan nyante. LOL. Kadang ikutan ndayung, kadang membiarkan pak Gimin mendayung sendiri. LOL. (Shhhttt ... jangan ditiru! LOL.)


Btw, ini adalah pengalaman rafting pertama buat seorang NJ. Sejak awal dia nampak tegang, meski sudah kuberitahu bawa sungai Elo sangat ramah buat para newbie. Dia langsung terlihat panik waktu seorang rekan kerja kita – Dewi – yang duduk di boat yang lain terjatuh ke dalam air. Meski Dewi dengan cepat dibantu naik kembali ke boat, NJ nampak tidak jenak.

Kata pak Gimin penyebab seorang rafter terjatuh adalah karena dia tidak konsentrasi penuh. Bahkan lebih parah lagi, mungkin sedang melamun. LOL.

Dewi tidak hanya jatuh sekali. LOL. Kali kedua dia jatuh, kebetulan lokasi dia jatuh dekat dengan boat kita, maka pak Gimin membantunya naik ke boat kita. Jadilah kita bertujuh. Baru beberapa saat Dewi ‘menumpang’ boat kita, eh, dia jatuh lagi. LOL.

Setelah akhirnya Dewi kita kembalikan ke boat dia sendiri, eh, malah Samsul jatuh dengan sendirinya. LOL. Benar kata pak Gimin, karena kita melamun, tidak konsentrasi ke apa yang sedang kita lakukan, bisa membuat kita terjatuh. LOL.

Yang jatuh berikutnya adalah NJ. Kekekekeke ... Dia terjatuh ke air karena ... dia diusilin pak Gimin, dalam kondisi dia melamun! LOL. Namun pak Gimin tidak berhasil mengusiliku maupun Angie. J kita berdua senantiasa alert!  Yeaaaah. LOL.

Seperti biasa, setelah melampaui 6 kilometer kita rafting, kita semua diberi kesempatan beristirahat, dan menikmati air kelapa muda dan beberapa kudapan.

Menjelang pukul 12.00 kita semua sudah sampai di titik akhir, di bawah tempat kita duduk-duduk santai di pagi hari, sebelum kita diberangkatkan ke Blondo. Kita langsung naik, kemudian mandi di tempat-tempat yang telah disediakan. Setelah itu, kita menikmati makan siang, yang merupakan satu paket dengan arung jeram tersebut. Menu makan siang kita adalah sayur lodeh tanpa cabe, ayam bakar, oseng tempe, sambal terasi yang maknyus, dan krupuk.

Sekitar pukul 12.40 kita meninggalkan lokasi CitraElo dengan perasaan lega. Kita bisa menikmati berarung-jeram tanpa diganggu hujan! Oh well, meski kata pak Gimin sih kalau kita rafting pas hujan turun malah jauh lebih asyik. Hmmm ... kapan-kapan lagi deh. LOL.


Dari sana, kita mampir sejenak ke Candi Mendut yang terletak tak jauh. Namun karena hujan turun (akhirnya!) kita tidak lama disini. Sekitar pukul 13.30 kita melanjutkan perjalanan. Karena tak seorang pun menyatakan ingin mampir di satu tempat lain (hujan yang turun telah memadamkan hasrat kita! LOL) akhirnya kita hanya mampir di tempat beli oleh-oleh. Kemudian lanjut pulang ke Semarang.

Sekitar pukul 14.30 kita mengatakan goodbye Magelang! Kapan-kapan tentu aku dan Angie akan kembali lagi! yeay!

LG 15.15 02/12/2017