Search

Friday, September 28, 2018

Dolan ke Tana Toraja



DOLAN SULAWESI

Barangkali magnet Sulawesi jauh lebih kuat ketimbang Bangka bagi kawan-kawan dan juga saya. Ini mengingat ketika kita memutuskan bergandeng tangan saling mendukung untuk menghadiri jamboree sepeda lipat nasional a.k.a jamselinas kedelapan yang diselenggarakan di Makassar pada pertengahan bulan September 2018. Satu hal yang tidak kita lakukan ketika kita tahu bahwa jamselinas keenam diselenggarakan di Bangka. J

Namun barangkali karena keterikatan kita satu sama lain saat itu (September 2017) terasa sangat kuat setelah kita sama-sama bekerja bersama mewujudkan kesuksesan penyelenggaraan jamselinas ketujuh. Sedangkan di tahun 2015 ketika kita tahu bahwa jamselinas keenam akan diadakan di Bangka kita tidak merasakan hal yang sama. J

Well, apa pun trigger-nya, saya dan kawan-kawan telah sukses mewujudkan impian kita bersama untuk dolan ke Sulawesi bareng-bareng, baik untuk menghadiri jamselinas kedelapan maupun untuk jalan-jalan ke Tana Toraja.

TANA TORAJA

Alhamdulillah bahwa saya dan beberapa kawan diberkahi kemudahan untuk meninggalkan tempat kerja selama beberapa hari untuk berpetualang ke Tana Toraja. Meski ternyata Tana Toraja terletak lumayan jauh dari Makassar, kota dimana jamselinas kedelapan diselenggarakan. Kenyataan ini tidak menciutkan nyali kita. Mengapa Tana Toraja? Saya pikir pasti banyak orang yang mengerti mengapa Tana Toraja begitu eksotis meskipun cukup mistis. J Tana Toraja memiliki kekhasan destinasi wisata yang tidak dimiliki daerah-daerah lain: goa Londa yang dimanfaatkan sebagai kuburan.

Selasa 11 September 2018

Pada hari Selasa 11 September 2018 8 orang pehobi sepeda lipat berangkat menuju Makassar, dibagi menjadi dua kloter; 4 orang berangkat pukul empat sore WIB (Tayux, Da, Iffan dan Desi); 4 orang lain berangkat pukul delapan malam WIB (Ranz, Hesti, Avitt dan saya). Sesampai bandara Sultan Hasanuddin, tentu saja Tayux dan Da memiliki tujuan yang sama dengan rombongan saya, menunggu kehadiran kami. Sementara itu, Iffan dan Desi yang ingin menikmati keelokan pantai Tanjung Bira telah memisahkan diri dari Tayux dan Da. 

dengan wajah lusuh, sesampai bandara Sultan Hasanuddin

Malam itu kita tidak hanya berenam, nte Ria yang berangkat dari Jakarta turut bergabung dengan rombongan yang akan ke Tana Toraja. Kita bertujuh dijemput dua mobil, yang pertama disetiri oleh Om Ali (dalam mobilnya ada saya, Ranz, dan nte Ria; mobil yang kedua disetiri oleh Om Anto, Tayux, Da, Hesti dan Avitt ada di dalamnya.

Hampir pukul 23.30 WITengah kita meninggalkan bandara menuju arah Tana Toraja. Dalam perjalanan saya terheran-heran melihat masih banyak toko yang buka. Di satu toko yang berjualan oleh-oleh kita diajak mampir, bukan untuk belanja, (orang kita juga baru sampai. Mosok sudah mau beli oleh-oleh. Lol.) namun untuk mencicipi roti khas daerah situ dan teh hangat yang disediakan gratis untuk para pelancong. Wow. 

Setelah mampir di toko itu, tak lama kemudian saya tertidur ketika mobil melanjutkan perjalanan. Mata saya yang minus tentu tidak bisa melihat kondisi di luar yang gelap gulita, lol, plus setiap dalam perjalanan saya selalu diserang rasa kantuk. Lol. Saya tahu beberapa kali mobil berhenti entah mampir dimana, tapi saya tetap lanjut molor. Lol. Nte Ria yang duduk di depan, disamping om Ali juga tidur nyenyak (nampaknya nyenyak sih. Lol.) sedangkan Ranz yang duduk di samping saya sering ikut turun dari mobil ketika mobil berhenti.

Rabu 12 September 2018

Hingga menjelang pukul enam pagi WITengah hari Rabu mobil berhenti di satu toko oleh-oleh sekaligus rumah makan. Ranz mengajak saya turun karena katanya pemandangan di belakang rumah makan itu bagus sekali. Dengan langkah terseok-seok saya mengikuti Ranz. Karena rumah makan itu tidak besar ukurannya, hanya dalam beberapa langkah ternyata kita sudah sampai di ujung belakang dimana kita langsung disuguhi pemandangan Gunung Nona yang spektakuler! Di bawah terletak jurang yang cukup dalam dan hamparan pegunungan yang bentuknya mirip satu sama lain Nampak cantik sekali. Kabut masih menyelimuti beberapa area, meski tidak mengurangi kecantikannya. Hawanya? Sangat sejuk! 

Kawasan ini disebut Enrekang





Disini saya memesan teh panas untuk melegakan tenggorokan. (sebelum meninggalkan Semarang, saya sudah terserang batuk-batuk yang cukup mengganggu kenyamanan. L) yang lain ada yang pesan kopi, selain mi rebus instan. 

Sekitar pukul tujuh kita melanjutkan perjalanan. Saya pikir Tana Toraja sudah cukup dekat dari kawasan itu. Namun ternyata kita baru sampai Rantepao – ibu kota Toraja Utara – dua jam kemudian. LOL. Jauhnyoooooooo. LOL.

Yang pertama kita lakukan adalah mencari penginapan yang cukup murah namun nyaman untuk kita beristirahat. Di hotel MARIA 1 itu kita menyewa empat kamar; saya, Ranz dan nte Ria satu kamar; Avitt dan Hesti satu kamar, Tayux dan Da satu kamar, yang satu kamar lagi untuk Om Ali dan Om Anto. Setelah mandi dan ganti baju, saya mengajak Ranz dan nte Ria jalan-jalan ke sekitar situ. Saya butuh membeli celana panjang / kulot untuk ganti. 

becak motor ala Tana Toraja

penampakan pusat kota Maleo, TaTor



Berempat bersama Da kita berjalan-jalan santai. Ternyata tak jauh dari situ ada pasar tradisional. Kita tidak bemaksud membeli apa-apa di pasar tradisional ini, hanya jalan-jalan saja. Namun ternyata tak jauh dari situ ada deretan toko-toko yang berjualan oleh-oleh khas Tana Toraja, mulai dari gantungan kunci, tas, selendang atau slayer, sampai kaos-kaos yang bertuliskan TORAJA maupun TANA TORAJA. Dan, meski kita baru saja sampai di Rantepao ini, dan belum berkunjung kemana-mana, kita berempat belanja kaos dll untuk orang rumah. LOL. 

Sekitar pukul 12 WITA kita kembali ke penginapan. Setelah yang lain siap, kita keluar lagi untuk makan siang di satu rumah makan yang terletak tak jauh dari situ. 

LONDA

dengan latar belakang bukit Patabang Bunga
 Sekitar pukul 14.15 kita meninggalkan rumah makan menuju Goa LONDA. Kita beruntung diantar oleh Om Ali dan Om Anto yang meski orang Pare-pare lumayan mengenal daerah Rantepao ini sehingga tidak butuh waku lama, kita telah sampai Londa. Menjelang sampai tempat pakir destinasi wisata satu ini kita melihat rombongan mengenakan jersey GOSBASTER dengan sepeda lipat mereka. Wahhh … ternyata ada juga peserta jamselinas 8 yang memiliki ide yang sama dengan kita, yakni dolan dulu ke Tana Toraja. Bedanya adalah jika kita benar-benar piknik sehingga merasa tidak perlu mengeluarkan sepeda lipat dari mobil (sebagian sepeda lipat masih dalam kondisi terbungkus, sebagian yang lain dalam tas). 7 orang yang mengenakan jersey GOSBASTER itu ke Londa dengan naik sepeda! Wow. J Kita sempat ngobrol-ngobrol sebentar sebelum kita membeli tiket dan masuk ke pelataran Londa.









Harga tiket Rp. 15.000,00 per orang. Ketika kita bertujuh berjalan menuju goa Londa, ada seorang pemandu yang menawarkan diri menyewakan lampu petromaks. Kita setuju untuk menyewa 1 lampu petromaks. Lampu ini sangat berguna untuk menerangi ketika kita masuk ke dalam goa. 

Goa Londa terletak di kawasan bukit Patabang Bunga. Hawanya cukup sejuk meski matahari bersinar terik. Mendekati pintu masuk goa, kita ‘disambut’ oleh sederet tau-tau atau patung yang dibuat persis orang yang sudah meninggal dan peti matinya diletakkan di dalam goa. Agar seseorang yang sudah meninggal bisa dibuatkan patung dan didandani persis seperti dirinya kala masih hidup, keluarganya harus mengadakan upacara adat tertentu dengan menyembelih kerbau dalam jumlah tertentu. Selain deretan tau-tau, kita juga bisa melihat peti mati peti mati yang digantungkan di bukit, di atas pintu goa. Kata si bapak pemandu, di atas goa yang akan kita masuki ada lokasi lain yang digunakan untuk kuburan. Semakin tinggi strata social sebuah keluarga, semakin tinggi lokasinya. Ini mengingat kadang keluarga ikut serta memasukkan barang-barang berharga kesayangan anggota keluarga yang sudah meninggal di dalam peti hingga jika lokasinya tinggi akan sulit dijangkau mereka yang berniat menjarah. 

Setelah memasuki goa, kita bisa mendapati banyak tengkorak dan juga peti mati peti mati lain yang diletakkan di dalam goa. Sang pemandu memberi informasi bahwa lokasi di dalam goa telah terbagi sedemikian rupa sehingga di satu lokasi yang sama, peti mati peti mati dan tengkorak yang ada milik satu keluarga. Lokasi lain milik keluarga yang lain. Dengan ini mudah bagi keluarga yang masih hidup ketika akan melakukan ziarah karena kuburan para pendahulu mereka tidak berserakan. Jika kita melihat ada rokok, kaleng (minuman) dll di dekat peti mati atau tengkorak itu bukanlah orang yang membuang sampah sembarangan, namun merupakan sesaji. 

Kita meninggalkan Londa sekitar pukul 15.40. dari Londa kita melanjutkan perjalanan menuju Ke’te Kesu. Kita sampai di Ke’te Kesu sebelum pukul 16.00 karena memang jaraknya tidak terlalu jauh dari Londa (dan kita naik mobil, bukan sepeda. Lol.) Harga tiket masuk juga Rp. 15.000,00 per orang. 

KE’TE KESU

Ke’te Kesu dikenal sebagai objek wisata tempat wisatawan bisa melihat rumah adat Toraja dari dekat. Salah satu dari deretan tongkonan (nama rumah adat Toraja) ada satu yang berfungsi sebagai museum. Di dalamnya kita bisa melihat foto-foto yang berkaitan dengan adat Toraja. Namun kita tidak masuk ke dalamnya dengan dua alasan. Pertama, kita harus membayar (lagi) sejumlah sepuluh ribu rupiah per orang. Kedua, saat itu museum dalam kondisi terkunci, yang bertugas menjaganya sedang keluar. Akhirnya kita hanya foto-foto disitu.












Setelah cukup puas berfoto-foto, kita menuju satu tempat dimana ada petunjuk ‘KUBURAN BATU’. Karena penasaran, aku kesana, diikuti oleh Ranz. Setelah berjalan menuruni tangga sekitar 300 meter, kita menemukan bukit yang juga dimanfaatkan untuk kuburan. Jika ingin ke kuburan batu itu, kita harus menapaki tangga ke atas. Karena yang lain tidak ada yang mengikuti kita, dan tidak ada pemandu yang bisa menjelaskan ini itu kepada kita, Ranz mengajak sayakembali ke deretan toko-toko yang menjual berbagai cendera mata, di dekat deretan tongkonan tempat kita berfoto-foto sebelumnya.

Setelah puas berbelanja beberapa jenis merchandise, kita kembali ke penginapan. Dan ternyata, sesampai penginapan, aku dan nte Ria sama-sama teller, jadi kita tidur. Lol. Sekitar pukul Sembilan malam WITA kita bangun, nte Ria kelaparan, sehingga dia mengajak saya menyusul yang lain. Yang lain sedang jalan-jalan mencari tempat ngopi. :D malam itu kita makan nasi goreng di satu lapangan sejenis alun-alun, tak jauh dari penginapan. 

To be continued.

LG 15.15 28092918